PEMEKASAN – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginginkan para kiai, pengurus NU, para ustaz lebih banyak berpikir dan merespon permasalahan-permasalahan mutakhir serta memberikan jawaban dengan sudut pandang fikih yang dianut oleh Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Keingin itu disampaikan oleh KH Hodri Ariev, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU saat menjadi pembicara pada acara “Halaqah Fiqih Kebangsaan”, Selasa malam (26/12/2023), di Pondok Pesantren Darul Amin, Waru Barat, Waru, Pamekasan, Jawa Timur.
“Mengapa fikih kebangsaan? Karena fikih menegaskan sudut pandang kita sebagai nahdliyin. Cara berpikir kita tidak pernah dan tidak boleh lepas dari fikih, dan fikih mengandaikan mata rantai ilmu dan amal kita yang bersambung kepada kiai kita, pada tabiin, pada sahabat sampai pada rasulullah,” ucapnya.
Hal ini merupakan salah satu alasan digelarnya agenda tersebut sampai ratusan kali. Menurut Kiai Hodri, kegiatan serupa dilaksanakan di seluruh Indonesia sebanyak 250 kali pada tahap pertama sepanjang tahun 2022 silam.
“Pada tahap kedua, bulan Desember 2023 ini harus selesai, dan insyaallah tahap ketiga pada 2024 mendatang,” ucapnya.
Pada kegiatan bertema “Pengalaman Islam dalam Membangun Peradaban Nusantara” Kiai Hodri didampingi oleh KH. Muhammad Taufiq, Ketua Hubungan Luar Negeri PCNU yang juga bertindak sebagai pemateri.
Lora Muhammad Zaki berharap halakah ini sebagai upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang fikrah nahdliyah, khususnya di wilayah pantura.
“Nantinya masyarakat dapat menerapkan fikrah wasathiyyah, saling toleransi, saling memahami perbedaan, terutama para pemuda dan penggerak agar bisa bersama- sama berdakwah menyebarkan fikrah Ahlussunah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Reporter: Haidar
Editor: Ahnu

