PAMEKASAN — Memeperingati hari kelahiran pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Mohammad Hasyim Asy’ari, Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan, Sabtu malam (14/02/2019) menggelar doa dan ngaji bersama.
Kegiatan yang diikuti pengurus, anggota baru dan kader ini bersamaan dengan agenda rutin komisariat, yakni Jumat Manisan yang dilaksanakan setiap bulan pada malam Jumat legi sebagaimana tradisi warga nahdliyin di Madura.
“Alhamdulillah Jumat Manisan kali ini bertepatan dengan hari keliharan pendiri NU. (momentum. Red.) ini kita jadikan spirit perjuangan untuk mengabdi dan melanjutkan cita-cita pendiri PMII dan NU,” ungkap Ghufron selaku Wakil Ketua III Bidang Keagamaan.
Imam Syafi’i selaku Ketua Komisariat mengapresiasi inisiatif pengurusnya. Menurut pemuda kelahiran Sampang ini, tradisi Jumat Manisan harus tetap dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk wasilah mendapatkan aliran berkah para pendiri NU.
“Apa lagi tanggal 14 (Februari. Red.) ini bertepatan dengan lahirnya Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Kalau bukan kita, selaku kader Nahdlatul Ulama, yang memperingati kelahiran beliau, lantas siapa lagi?” lanjutnya.
KH. Mohammad Hasyim Asy’arie lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871 silam. Mbah Hasyim, begitu warga NU biasa menyebut, meninggal di Jombang, Jawa Timur, 21 Juli 1947 pada umur 76 tahun; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang. Mbah Hasyim merupakan salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan juga pendiri Nahdlatul Ulama. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki Hadlratus Syaikh yang berarti maha guru.
Reporter: Zainal
Editor: Ahnu

