NEWS

Tiga Tantangan Bangsa di Masa Depan Menurut Ketua GP Ansor Pamekasan

PAMEKASAN – Pada momen pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) II Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kecamatan Proppo, Lora Maltuful Anam, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pamekasan, dalam sambutannya mengatakan, ada tiga tantangan bangsa di masa yang akan datang.

Hal ini disampaikan di hadapan seratus peserta Diklatsar, di Pondok Pesantren Hidyatun Najah, Dusun Kalimati, Desa Samiran, Kecamatan Proppo, Jumat siang, (30/12/2022).

Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyepepen Palengaan, Pamekasan itu mengatakan, tiga ancaman bangsa di masa yang akan datang tersebut di antaranya, munculnya generasi baru yaitu Bonus Demografi 2045 yang sasarannya usia produktif, mulai umur 16-65 Tahun. Tak hanya itu, yang kedua digitalisasi di segala aspek kehidupan manusia juga menjadi tantangan bagi kaum milenial. Dan yang ketiga tren intoleransi dan radikalisme sangat mengancam idelogi bangsa di masa depan.

Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu juga menyampaikan, Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai organisasi ke-Islaman dan kemasyarakatan tradisonalis. Tidak ada catatan sejarah Islam tradisionlis bentrok dengan adat lokal. Tahun 1926 NU berdiri dengan tujuan mempertahankan dan mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang yang menjadi paham mainstream dan silent majority.

“Islam di Nusantara baru menghadapi kendala ketika Muhammad Bin Saud berkolaborasi dengan Muhammad Bin Abdul Wahhab yang dikenal saat ini dengan ajaran wahabinya atau lebih kerennya ajaran salafi saat ini. Ketika NU berdiri dibentuklah organisasi underbouw, di antaranya Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU-IPPNU, Pagarnusa dan lainnya,”jelasnya.

Tak hanya itu, dia menjelaskan Ansor dengan kader-kadernya adalah kader muda NU yang merupakan wajah masa depan NU, bahkan menjadi pertaruhan bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Membeludaknya penduduk muda merupakan potensi sekaligus ancaman. Potensi karena mereka adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang sedang dalam masa produktif untuk menopang pembangunan, apabila mereka tidak dikelola dengan baik bisa menjadi salah satu penyebab bencana demografi.

“Demi komitmen regenerasi, Ansor harus melaksanakan kaderisasi, tanpa kaderisasi jangan harap kita punya generasi. Kaderisasi, dalam konteks ini, adalah proses menyeluruh dalam pembentukan pemikiran, kepribadian dan perilaku. Kader Banser tidak boleh menjadi kader pengecut, tidak boleh menjadi kader penakut, jangan takut kepada siapapun, apalagi hanya sebuah patung, patung sapi lagi,” terangnya.

Selain itu beliau berharap seluruh PAC GP Ansor se-Kabupaten Pamekasan setiap tahun harus melakukan proses jaderisasi, baik Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ataupun Diklatsar.

“Saat ini waktunya kita menanam. Jangan dulu memikirkan kita panen atau memetik. Tanam, siram dan rawat. Lakukan kaderisasi,” pungkasnya.


Reporter: Azhari
Editor: Redaktur