NEWS

PCINU Malaysia Bahas Dampak Covid-19 Di Indonesia-Malaysia

“Adanya klaster-klaster baru bermunculan, menyebabkan pemerintah mengambil langkah berjaga-jaga. Salah satu contohnya adalah penutupan masjid oleh uli al-amri atas nasehat mufti untuk menghindari klaster-klster baru terbentuk,” imbuh dosen Universitas Islam Internasional Malaysia itu.

Pembicara selanjutnya, Rumadi Ahmad, melihat keberadaan Covid-19 perspektif paradigma agama dan sains, baik paradigma independen, pendukung, integrasi, dan paradigma dialisis.

“Di Indonesia dalam minggu terakhir ini, terjadi perdebatan saling menundukkan antara pro agama dan pro sains. Semestinya agama dan sains saling mengintegrasikan dalam menghadapi wabah ini, sains ada keterbatasan dan agama juga begitu. Mau tidak mau, akhirnya manusia harus mengadaptasikan kebiasaan baru, termasuk di dalamnya hal ibadah, seperti jarak shaf dalam salat,” jelas Staff Ahli Kepresidenan itu.

Pernyataan Rumadi Ahmad di atas, ditimpali oleh Yon Mahmudi. Kaprodi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia ini mengatakan, agama dan pengetahuan harus adaptif, fleksibel terhadap adanya perubahan.

“Menjauhi wabah jauh lebih baik, untuk menghindari penyebaran yang lebih besar. Kita perlu jaga diri dan keluarga. Di saat kita begitu perhatian dengan kehidupan akhirat, maka semestinya juga kita harus memberikan perhatian yang sama kepada kehidupan dunia,” ujarnya menutup pemaparanya dalam giat tersebut.

Webinar yang diikuti sekira 200 orang ini, memakan waktu sekitar tiga jam. Kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Mustasyar PCINU Malaysia, KH. Liling Sibromilisi.


Reporter: Aboonk
Editor: Wiyono