PAMEKASAN – Ahmad Kholidi, yang dikenal di mimbar dakwah dengan nama Kang Kholidi Ahmed, aktif dalam kegiatan dakwah dan khidmah sosial-keagamaan. Pengalaman menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan sejak 2011 menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Kholidi berasal dari Desa Teja Barat, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan. Meski tinggal di wilayah pinggiran kota, ia memilih menempuh pendidikan agama di pesantren untuk memperdalam ilmu sekaligus menjalani kehidupan yang menuntut kemandirian.
Selama menjadi santri, Kholidi tidak hanya mengikuti kegiatan belajar, seperti muthala’ah dan mengkaji kitab-kitab turas, tetapi juga memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Keterbatasan ekonomi membuatnya harus mengatur kebutuhan makan, pakaian, dan keperluan pribadi dengan sederhana.
“Di Bettet, santri ditekankan hidup mandiri dan semua penuh keterbatasan. Kita bukan hanya dituntut fokus belajar, muthala’ah, atau mengkaji kitab-kitab turas, tapi dituntut untuk mengusahakan apa yang kita inginkan,” tuturnya, Ahad (25/10/2026).
Semasa di nyantri, ia mengaku harus menanak nasi sendiri dan memasak lauk sederhana untuk memenuhi kebutuhan makan. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, ia terkadang menjalankan puasa sunah bukan semata-mata untuk memperoleh pahala, melainkan juga karena keterbatasan biaya hidup.
“Sebatas ingin makan saya harus masak nasi dulu, baru masak lauk tahu tempe dengan kuah sup yang cuma dibumbui Masako. Bahkan terkadang saya melakukan puasa sunah bukan semata-mata mengharap pahala sunah, akan tetapi dilatarbelakangi kondisi finansial yang tidak karuan. Kalau kata teman-teman sedang terjangkit virus kanker (kantong kering, Red). Bahkan saya sangat jarang ganti baju, paling cepat tiga hari sekali dan paling sering satu minggu sekali sampai berbau arngit (bahasa Madura),” kenangnya.
Selain belajar dan mengurus kebutuhan pribadi, ia juga menjalani kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Pada musim tertentu, terutama musim hujan, para santri diajarkan membajak sawah, mengarit serta melakukan pekerjaan lain yang biasa dikerjakan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kholidi selama menempuh pendidikan di pesantren. Ia mengaitkan proses itu dengan nilai kemandirian, kesabaran, dan harapan memperoleh barakah dari masyayikh serta pesantren.
Kini, Kholidi aktif dalam sejumlah kegiatan organisasi dan dakwah. Di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), ia menjabat Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Pamekasan serta Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan.
Di luar organisasi tersebut, ia terlibat dalam bidang keagamaan Yayasan Cahaya Langit Pamekasan. Aktivitasnya meliputi mengajar di sejumlah pesantren dan madrasah, mengisi pengajian umum, serta membimbing kajian rutin. Setiap bulan, ia juga dipercaya mengisi kajian bagi para mualaf binaan Yayasan Cahaya Langit Pamekasan.
“Alhamdulillah, sekarang barakah-nya masyayikh dan barakah-nya pesantren serta berkat tempaan yang luar biasa di pesantren, saya aktif di berbagai lembaga keislaman. Semuanya tidak saya peroleh hanya dengan senyum manis sambil rebahan, tapi rasa sakit, pahit, dan terjatuh itu semuanya dilalui dengan ketabahan dan kesabaran,” pungkasnya.
Reporter: Atik Arifana (MNU-X. 10.004)
Editor: Ahnu

