Oleh: Taufik Hasyim*
Kami dan kita semua bersama sama untuk naik kereta bernama Kereta “Ramadan” dengan tujuan akhir Stasiun “Idul Fitri”. Lama perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih satu bulan lamanya. Saat sebelum berangkat, kami semua bersiap siap untuk bekal selama satu bulan perjalanan, segala persiapan dilakukan baik fisik mental hingga spiritual.
Diantara keistimewaan Ramadan adalah karena sepuluh hari pertama adalah Rahmat (kasih sayang), sepuluh hari kedua adalah ampunan dan sepuluh hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka bagi siapa saja yang penuh khudlur dan khusyu’ dalam menjalankan puasanya, bahkan didalamnya ada satu malam yang jika seseorng sungguh-sungguh mengharap datangnya Lailatul Qadar itu ia akan mendapat pahala yang setara dengan beribadah 1000 bulan.
Selama di perjalanan, semua penumpang duduk di tempat sesuai nomer kursi yang tertera dalam tiket masing-masing, setelah kami semua duduk aku lihat penumpang ada yang langsung duduk ada pula yang sibuk menempatkan tas bawaannya ada juga yang sibuk mencari keluarganya karena nomer kursi tidak sama. Saat kereta berangkat aku juga melihat macam-macam aktivitas penumpang, ada yang langsung tidur lalu bangun hanya pada saat waktu shalat dan waktu buka puasa dan sahur saja, ada juga yang ketika duduk terus menerus baca Qur’an bahkan perjalanan baru 5 hari sudah selesai 30 juz, ada pula penumpang yang bekerja seperti biasa seperti kehidupan sebelum masuk kereta.
Ada juga yang tangannya tak lepas dari tasbih dan mulutnya komat kamit membaca tahmid, tahlil dan tasbih sambil sesekali berbicara dengan disebelahnya, ada juga yang malah ngobrol terus tak henti-hentinya sambil tertawa bahak sembari lihat Hp, ada juga yang sejak berangkat terus menerus nonton Film melalui HP.
Demikian juga saat malam hari, aku juga melihat diantara mereka yang selain aktif shalat taraweh juga istiqomah shalat tahajjud setelah melaksanakan sahur bahkan ada diantara mereka yang setelah sahur langsung ke Mushola duduk bersimpuh sambil nangis sembari menunggu jamaah shalat subuh. Ada juga diantara mereka yang hanya taraweh lalu tidur dan tidak shalat malam, ada juga setelah makan sahur ngopi sambil rokokan sembari menunggu subuh.
Sedang di luar kereta hiruk pikuk Ramadan begitu terasa, sebelum adzan maghrib kami mendengar suara bacaan ayat-ayat suci Alquran hampir di setiap masjid dan mushola. Menjelang sahur kami juga mendengar suara dari pengeras ber-merk TOA itu kalimat ‘sahur, sahur, sahur’ sambil memberi kabar waktu imsak…., itulah ciri khas Ramadan yang begitu indah terdengar di telinga. Sehabis buka puasa kita semua siap-siap ke masjid mulai dari anak muda, remaja, orang tua bahkan yang sudah usia lanjut pun bersama-sama ke masjid dan mushola untuk melaksanakan shalat isya dan taraweh berjamaah, setelah taraweh selesai dilanjutkan dengan suara tadarus Alquran saut sautan di masjid dan mushola yang semakin menambah khidmah dan ciri khas Ramadan menjadi begitu terasa. Belum lagi ada pembagian takjil, peringatan nuzulqur’an, santunan yatim piatu, ada kuliah subuh, ada kuliah tujuh menit dan sesekali ada buka puasa bersama dengan rekan kerja juga dengan teman sejawat, semua itu menambah hangat dan begitu terasanya barakah dan hikmah Ramadan.
Namun tak terasa, Masinis sudah memberi kode bahwa stasiun akhir yaitu stasiun Idul Fitri sudah dekat dan memberi arahan kepada penumpang untuk mulai mengemasi barang-barang bawaannya. Aku lihat penumpang mulai berkemas,, menurunkan tas bawaanya dari kabin, diantara mereka ada yang saling tukar kartu nama ada juga minta nomer HP ada yang senang riang gembira karena akan beridul fitri dan ada juga yang tampak sedih merenung, ada juga yang tampak bingung dengan tatapan kosong.
Sedang aku, pikiran gak karuan, aku sedih karena mau berpisah dengan Ramadan disertai pertanyaan di benakku ‘apakah tahun depan aku masih akan dipertemukan dengan Ramadan atau tidak?’ Dalam benakku juga terlintas apakah turun dari kereta Ramadan ini dosaku terampuni ataukah Ramadan ini hanya sekedar lewat begitu saja tanpa menghapus dosa-dosaku? Apakah puasaku yang menahan haus dan lapar ini akan mendapat ganjaran sorga dengan masuk melalui pintu “Royyan” sesuai dengan janji-Nya melalui sabda nabi-Nya bahwa ada pintu khusus ke sorga bagi orang yang berpuasa bernama pintu “Royyan?”.
Saat kereta tiba di stasiun Idul Fitri, semua penumpang turun dengan barang mereka masing masing, mereka semua memakai baju baru, sarung baru, celana baru, kerudung baru, sepatu baru dan semua serba baru. Secara dhohir mereka merayakan kemenangan berkumpul dengan sanak keluarga, namun entah secara batin.
Aku sengaja turun paling akhir dari kereta, terasa berat rasanya ku langkahkan kaki ini, aku paksa melangkah meninggalkan kereta Ramadan sembari pikiran ini berkecamuk antara bahagia dan sedih. Kira-kira 50 meter melangkah, aku berhenti sejenak untuk sekedar melihat menoleh ke belakang melihat kereta Ramadan, saat aku menoleh tak terasa air mataku menetes ketika Ramadan pergi meninggalkan kita semua, dalam hati berkata sambil berdoa. Ya Allah, pertemukanlah aku, keluargaku, sanak familiku, kerabatku, teman-temanku, sahabatku, orang yang mendoakanku, orang yang menolongku, pertemukan aku dan mereka dengan Ramadan tahun depan, terimalah ibadah kami, puasa kami, bacaan Qur’an kami, sujud kami, ampuni dosa kami, lindungi kami, bebaskan kami dari api neraka, tuntun kami kejalan menuju ridlo-Mu, berilah kami hidayah, berilah kami rahmat dan ma’unah-Mu.
Sebagai manusia yang harus terus menjalani kehidupan ini, aku akan melangkah meninggalkan Ramadan sebagai bagian dari proses kehidupan untuk mencari anugerah dan menjalani alur kehidupanku sesuai arah taqdir-ku, sebab langkahku dan perbuatanku tak lepas dari pengawasan-Nya bahkan kebaikanku-pun berasal dari-Nya.
Wallahu A’lam…
• Penulis adalah Ketua PCNU Pamekasan sekaligus Rektor Institut Agama Islam Miftahul Ulum, Panyeppen Pameksan

