Oleh: KH. Taufik Hasyim, M.Pd.I*
Guru Tugas, biasanya santri yang sudah menyelesaikan pendidikan madrasahnya di pesantren. Hal itu tergantung pesantrennya, ada yang tamat kelas 3 tsanawiyah lalu ditugas, ada yang mengharuskan tamat aliyah lalu di tugas. Maka, tidak sembarangan santri bisa menjadi guru tugas, melainkan harus santri yang mimpuni, teruji akhlak dan keilmuannya, serta punya mental yang kuat. Perihal tempat tugasnya bermacam-macam. Ada yang ditugas ke wilayah satu kabupaten dengan pesantrennya, satu propinsi ada yang ditugas ke luar pulau, seperti Kalimantan, Sumatera, Batam, bahkan ke luar negeri seperti Malaysia, Brunei dan Thailand.
Para santri yang ditugas ini, selain program dari pesantren yang mengeluarkan guru tugas, juga bertujuan untuk melatih para santri supaya bisa terjun ke masyarakat sekaligus langsung praktek tentang ilmu yang sudah dipelajari di pesantren. Semacam KKN di perguruan tinggi. Namun karena yang mengeluarkan guru tugas adalah pesantren, maka KKN-nya guru tugas ini fokus di bidang agama, seperti mengajar Al-Qur’an, kitab-kitab fikih, nahwu dan ada yang program khusus seperti tahfidz al-qur’an, baca kitab, dll. Artinya, guru tugas ini adalah bukan sembarang santri melainkan harus orang-orang pilihan yang sudah siap “tempur”, sebab di tempat tugasnya dia harus siap menjadi imam Sholat lima waktu, siap menjadi khatib Jumat, siap menjadi penceramah, siap istikamah azan tiap waktu salat dan tugas-tugas keagamaan lainnya.
Dari tahun ke tahun, permintaan guru tugas terus meningkat, padahal di Jawa Timur ada pesantren yang tahun ini mengeluarkan lebih dari 1.000 orang guru tugas. Di Madura, tahun ini ada yang mengeluarkan 400-500 guru tugas, ada yang 100 orang, ada juga yang 50 org, bahkan ada yang 10 orang. Meskipun begitu, tetap saja masih kekurangan guru tugas dan hingga seminggu yang lalu, ada kiai pengasuh pesantren dan pengasuh madrasah yang telpon saya meminta dicarikan guru tugas karena di tempatnya kekurangan tenaga pengajar.
Sedangkan orang tua (wali santri) sangat senang jika anaknya menjadi guru tugas, bahkan ada yang bercita-cita: “Pokoknya, anak saya tidak akan boyong sebelum menjadi guru tugas,” “Anak saya tidak boleh menikah sebelum ditugas”. Ada tamu yang datang ke saya, lalu dengan bangga berkata: “Alhamdulillah anak saya tahun ini sudah ditugas kedua kalinya.” Ada lagi yang bilang: “Anak saya baru boleh kuliah kalau sudah menjadi guru tugas,” dan seorang guru tugas terkadang tidak hanya satu kali menjadi guru tugas, ada yang dua kali bahkan tiga kali, dan orang tuanya rela dan bangga jika anaknya ditugas lebih dari satu kali.
Tak heran, jika di pesantren tiap awal tahun pasti ada acara pemberangkatan/pelepasan guru tugas, di mana pada acara ini semua keluarga calon guru tugas ikut hadir. Biasanya, Setelah acara seremonial selesai, masing-masing guru tugas berserta keluarganya dipertemukan dengan Penanggung Jawab Guru Tugas (PJGT) di mana dia akan ditempatkan. Setelah bincang-bincang selesai, lalu guru tugas akan berpamitan pada keluarganya, bersalaman, berpelukan bahkan banyak orang tua dari guru tugas menangis melepas kepergian anaknya pergi menuju tempat tugasnya.
Ya, menangis. Menangis dalam melepas kepergian anaknya menuju KKN, tempat tugas medan dakwah yang penuh perjuangan, perjuangan khidmah kepada pesantren yang mmbesarkannya dan khidmah kpd agama, sebab mereka akan mengajar dan menyebarkan ilmu agama yaitu ilmu tentang halal haram dan ilmu Al-Qur’an sekaligus akan belajar ilmu kemasyarakatan di tempat tugasnya.
Maka sebagai insan pesantren, saya ucapkan selamat berkhidmah kepada semua guru tugas yang tahun ini menjadi guru tugas dan sudah ada di tempat tugasnya masing-masing.
Laksanakan tugas dengan ikhlas, sabar, istikamah dan penuh tanggung jawab. Bagi saya, para guru tugas ini sama seperti Sahabat Nabi Mu’adz bin Jabal yang diutus Rasululllah ke Yaman untuk menyebarkan Islam dan menyebarkan ilmu agama ke Yaman saat itu.
Jangan hiraukan apapun atau siapapun yang mengganggu konsentrasimu, karena hakekatnya yang menugas kalian adalah Rasulullah untuk menyebarkan ilmu, dan ilmu itu adalah warisan Rasulullah SAW.
Teruntuk para orang tua guru tugas, relakan putra putrinya menjdi guru tugas dan doakan putra putri yang ada di tempat tugas supaya mereka betah dan bisa menjalankan amanah dan tugas dengan baik serta nanti di akhir tahun bisa kembali lagi ke pesantrennya dengan baik dan bisa kembali dengan keluarga baik pula.
Pamekasan, 07 Mei 2024
*Penulis adalah Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan

