Oleh: Moh. Wahyudi*
Kabar duka pada pagi itu (Sabtu, 14 Juni 2025) seolah menjadi jeda dalam putaran waktu perjuangan. KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan, wafat bersama istri tercinta dalam sebuah kecelakaan di Tol Pasuruan-Probolinggo. Suasana duka menyelimuti langit Madura. Tangis pecah di berbagai pelosok. Pesantren-pesantren sunyi, dan masyarakat tak henti menyebut nama beliau dalam doa.
Air mata kami belum kering, dan dada ini masih sesak menahan kehilangan. Namun, sebagai pengurus Nahdlatul Ulama, kami tahu betul bahwa tangis ‘tak boleh mengubur harapan. Duka tak boleh memadamkan bara perjuangan. Justru dari kehilangan inilah kami belajar untuk menata langkah lebih bijak dan merawat warisan perjuangan beliau dengan lebih teguh.
KH. Taufik Hasyim bukan sekadar ketua, tapi ruh perjuangan. Beliau hadir tidak hanya sebagai pemimpin struktural, tapi juga sebagai pembimbing spiritual dan simbol persatuan NU Pamekasan. Di bawah kepemimpinannya, NU bergerak bukan hanya sebagai organisasi, tapi sebagai gerakan peradaban bersatu dalam semangat ukhuwah, dan kaderisasi mulai dirancang dengan arah yang jelas. Beliau menjadi figur yang mampu menjembatani para ulama sepuh dan para aktivis muda, merangkul yang tua dan menyemai harapan pada yang muda. Kini, kepergian beliau menyisakan tanya sekaligus tanggung jawab besar bagi kami semua: bagaimana arah NU Pamekasan pasca-KH. Taufik Hasyim? Bagaimana kita memastikan bahwa warisan beliau tidak sekadar dikenang, tapi terus tumbuh dan memberi arti?
Warisan Kepemimpinan yang Membumi
KH. Taufik Hasyim memimpin dengan hati. Beliau tidak sekadar menakhodai roda organisasi, tapi menyusup ke dalam denyut nadi para kader. Ia hadir dalam majelis, sowan ke pesantren, mengayomi Badan Otonom (Banom), dan menyapa masyarakat. Satu hal yang selalu beliau tanamkan: “NU harus menjadi rumah bersama, bukan panggung pencitraan.”
Di masa kepemimpinannya, PCNU Pamekasan mulai menggeliat dengan sejumlah program strategis. Sinergi antarlembaga dan Banom semakin kuat. Dakwah sosial tidak hanya di momen seremonial, tapi juga merambah ke ranah digital dan media massa. Kaderisasi mulai terstruktur, dan hubungan dengan pemerintah serta elemen masyarakat lainnya dibangun dengan semangat kemaslahatan. NU tidak hanya dilihat dari sisi historisnya, tapi mulai menjadi aktor penting dalam perubahan sosial, pendidikan, dan keagamaan di Pamekasan.
Saatnya Menjaga Arah
Pascawafatnya beliau, PCNU Pamekasan berada di persimpangan penting. Di satu sisi, ada rasa kehilangan yang dalam. Di sisi lain, ada beban amanah yang harus dilanjutkan. Maka, penting bagi kita semua sebagai pengurus, kader, dan warga NU untuk bersikap dewasa, arif, dan bertanggung jawab.
Pertama, kita harus menjaga arah organisasi tetap berada pada jalur khittah perjuangan. Bahwa NU adalah organisasi keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan yang menjunjung tinggi nilai tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil). Jangan biarkan organisasi ini terbelah karena ambisi personal atau dinamika politik pragmatis. Semangat almarhum yang selalu mengedepankan musyawarah dan persaudaraan harus terus kita jaga.
Kedua, kita perlu merawat struktur dan kaderisasi yang telah dibangun. Program-program penguatan SDM NU harus dilanjutkan. Kader-kader muda perlu diberi ruang dan panggung untuk belajar serta mengabdi. Sebab, regenerasi yang sehat hanya akan tumbuh di lingkungan yang membuka ruang inklusif. Di sinilah peran Lembaga dan Banom sebagai kekuatan muda NU menjadi sangat penting.
Ketiga, kita harus memperkuat pelayanan kepada umat. Program sosial, advokasi warga, penguatan ekonomi, serta gerakan pendidikan pesantren perlu didorong dan dikembangkan. Jangan sampai NU hanya sibuk dengan urusan internal, namun lupa menyapa problem umat.
Keempat, menjaga sinergi ulama dan umara menjadi kunci. Almarhum KH. Taufik Hasyim dikenal piawai membangun komunikasi dengan semua pihak tanpa harus mengorbankan prinsip. Itulah seni dakwah yang sejuk. Maka, pengurus ke depan harus melanjutkan diplomasi ini dengan menjaga jarak ideal yang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak larut dalam politik kekuasaan.
NU Tidak Bergantung pada Satu Figur, Tapi Tak Bisa Melepaskan Jejak Sejarah
Sebagai organisasi besar, NU memang tidak pernah bergantung pada satu orang. Tapi, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa setiap pejuang besar membawa warna dan karakter. KH. Taufik Hasyim adalah warna yang teduh, karakter yang merangkul. Maka, ke depan, siapa pun yang ditakdirkan menjadi penerus, harus mampu melanjutkan semangat itu, semangat membangun NU sebagai kekuatan peradaban, bukan sekadar organisasi administratif.
Tidak mudah memang. Tapi sejarah NU telah membuktikan, bahwa dari kehilangan sering kali lahir lompatan besar. Dulu, KH. Hasyim Asy’ari wafat dalam masa genting perjuangan. Tapi NU tetap tegak, bahkan semakin kuat. Kini, saat KH. Taufik Hasyim berpulang, kita kembali diuji. Apakah kita hanya akan menangis, atau bangkit untuk menata langkah?
Kini, pascakepergian beliau, PCNU Pamekasan berada di sebuah simpang jalan yang menuntut ketegasan arah. Kita tidak hanya berhadapan dengan pertanyaan: “Siapa yang menggantikan?”, tetapi juga: “Bagaimana kita melanjutkan?”. Sebab NU bukan milik satu orang, tapi milik umat. Namun benar pula bahwa setiap pejuang memiliki jejak yang khas. Maka menjadi tugas kita semua untuk memastikan jejak KH. Taufik Hasyim tak sekadar dikenang, tapi diteruskan.
Pertama, soliditas internal harus diperkuat. Duka jangan menjadi sebab perpecahan, tapi sebaliknya, menjadi pemersatu seluruh elemen. Mari kita jaga ukhuwah pengurus, Majelis Wakil Cabang, Ranting, Anak Ranting, Lembaga, dan Banom agar tetap kompak dan berkhidmat tanpa pamrih. Karena hanya dengan kebersamaan, perjuangan bisa berlanjut dengan kuat.
Kedua, kaderisasi dan regenerasi harus menjadi prioritas. KH. Taufik Hasyim sangat percaya pada anak muda, dan beliau tidak segan memberi ruang. Maka semangat itu harus kita lanjutkan. Kita butuh banyak Taufik-Taufik muda yang lahir dari semangat belajar, berkhidmat, dan tawaduk pada ulama. Melalui pelatihan, pembinaan, dan pelibatan dalam program-program strategis, NU Pamekasan harus menjadi ladang subur kader-kader unggul.
Ketiga, penguatan dakwah dan sosial kemasyarakatan perlu dilanjutkan. Di masa almarhum, banyak program dakwah sosial, pendidikan, dan penguatan ekonomi melalui BMT Mandiri dan Nusaqu digalakkan. Jangan sampai semangat ini berhenti bersama kepergian beliau. Justru inilah saatnya menjadikan dakwah NU tidak hanya kuat di acara seremonial, tapi juga terasa dalam kebutuhan umat.
Terakhir, kita harus tetap menjadikan NU sebagai rumah besar yang nyaman bagi semua. Rumah yang hangat bagi para kiai, cendekiawan, aktivis, santri, petani, dan masyarakat awam. Jangan biarkan rumah besar ini dipenuhi sekat ego, tapi biarlah ia terus terbuka seperti pesan KH. Taufik: “NU ini bukan tempat mencari kemuliaan pribadi, tapi tempat menanam kebaikan untuk umat dan akhirat.”
Menyulam Masa Depan dengan Benang Pengabdian
Kami percaya, warisan perjuangan KH. Taufik Hasyim akan terus hidup dalam semangat para kader muda, dalam nasihat para kiai sepuh, dalam gerak langkah para pengurus dan Banom yang tulus mengabdi. Maka, mari kita sulam masa depan NU Pamekasan dengan benang pengabdian. Kita jaga arah, kita lanjutkan perjuangan, dan kita pastikan bahwa NU tetap menjadi lentera peradaban di Madura dan Indonesia.
KH. Taufik Hasyim boleh saja telah tiada. Tapi nilai-nilai yang beliau tanamkan adalah warisan yang tidak bisa dikuburkan. Kini, kita para pengurus, kader, dan warga NU memikul estafet perjuangan itu. Bukan untuk menggantikan beliau, tapi untuk melanjutkan cita-cita luhur yang telah beliau mulai.
Akhirnya, mari kita teruskan doa untuk almarhum dan keluarganya; dan kepada Allah Swt., kita memohon agar diberi kekuatan untuk terus melanjutkan perjuangan ini. Sebab sebagaimana pesan beliau dalam banyak kesempatan: “Berjuang di NU itu berat, tapi kalau diniatkan lillahi ta’ala, maka segala rasa lelah akan berubah menjadi berkah.”
Semoga Allah menerima amal ibadah beliau, mengampuni segala khilaf, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.
* Wakil Sekretaris PCNU Pamekasan

