Dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pembentukan moral, spiritual, dan sosial masyarakat. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan opini publik yang sering kali tidak berimbang, pesantren kini berada di persimpangan persepsi. Sejumlah anggapan negatif bermunculan, terutama pasca tragedi runtuhnya bangunan salah satu pesantren, yang kemudian melahirkan berbagai tudingan terhadap sistem, kepemimpinan, hingga integritas para pengasuhnya.
Sebagian kalangan menilai pesantren sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman. Ada pula yang menganggap pesantren hanya mengulang tradisi lama tanpa inovasi, bahkan memelihara feodalisme dan menindas daya kritis santri. Lebih jauh, muncul tudingan bahwa pesantren menjadi sarana memperkaya pengasuh, apalagi ketika terlihat adanya fasilitas atau kendaraan pribadi yang dianggap mewah. Pandangan semacam ini sering kali lahir dari ketidaktahuan terhadap realitas pesantren yang sesungguhnya, serta ketidakmampuan melihat perbedaan antara kebutuhan, simbol sosial, dan kemewahan.
Pasca tragedi runtuhnya bangunan pesantren Al-Khoziny, suara-suara kritik terhadap dunia pesantren menguat. Publik menyoroti manajemen, keamanan bangunan, hingga gaya hidup pengasuh. Tidak sedikit yang kemudian menggeneralisasi satu peristiwa tragis menjadi cerminan seluruh pesantren. Padahal, setiap pesantren memiliki karakter, sejarah, dan kapasitas sumber daya yang berbeda. Menyamaratakan semua pesantren atas dasar satu kejadian adalah bentuk ketidakadilan sosial sekaligus kegagalan memahami keragaman dunia pesantren di Indonesia. Dalam konteks ini, seyogianya masyarakat lebih arif “jika tidak mampu membantu meringankan beban pesantren yang sedang berduka, setidaknya jangan mempersulit dengan tuduhan negatif yang hanya menambah luka”.
Di balik tragedi Al-Khoziny, justru tampak kuatnya bukti penanaman keimanan dan keteguhan hati yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren kepada seluruh santrinya. Dari sinilah masyarakat justru melihat bukti nyata bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan ketulusan dan kesiapan menerima takdir Allah dengan lapang dada. Kesabaran dan keikhlasan para santri serta keluarganya menjadi cermin kekuatan spiritual yang lahir dari pendidikan iman yang mendalam.
Lebih mengharukan lagi, tragedi itu tidak membuat masyarakat menjauh dari pesantren. Justru sebaliknya, semakin banyak orang tua yang menunjukkan tekad untuk memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan pesantren. Fenomena ini menjadi bukti bahwa di tengah gempuran tuduhan dan prasangka, kepercayaan publik terhadap pesantren tidak surut. Masyarakat menyadari bahwa di pesantrenlah anak-anak mereka ditempa bukan hanya untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Inilah jawaban paling elegan terhadap segala tuduhan miring yang mencoba melemahkan martabat dunia santri.
Tudingan bahwa pengasuh pesantren memperkaya diri dengan fasilitas pribadi seperti mobil mewah juga menjadi sorotan tersendiri. Padahal, bagi seorang kiai, kendaraan bukan simbol kemewahan, melainkan kebutuhan mobilitas dakwah dan sosial. Seorang pengasuh pesantren kerap diundang menghadiri acara keagamaan, pertemuan masyarakat, hingga urusan administrasi lembaga di berbagai tempat. Mobilitas tinggi tersebut tentu menuntut sarana yang memadai. Ironisnya, sebagian masyarakat masih melihat dari kacamata sempit menilai penampilan tanpa memahami konteks fungsi dan tanggung jawab yang diemban.
Lebih jauh, banyak pesantren yang justru berdiri di atas pengorbanan materiil para pengasuhnya. Tidak sedikit kiai yang mengeluarkan harta pribadi demi pembangunan asrama, ruang kelas, atau kesejahteraan santri. Pesantren hidup bukan karena aliran dana besar, tetapi karena keikhlasan dan gotong royong umat. Jika pesantren kini mulai menata administrasi dan memperbaiki sarana dengan lebih baik, hal itu merupakan bagian dari profesionalisme lembaga, bukan tanda kemewahan atau keserakahan.
Contoh nyata kesederhanaan itu dapat dilihat dari sosok KH Abdussalam Mujib, pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoziny. Meski menjadi figur sentral dan dihormati ribuan santri serta masyarakat luas, beliau dikenal hidup dengan kesahajaan dan ketulusan. Dalam keseharian, beliau lebih banyak berbaur dengan santri, memberi keteladanan lewat tindakan, bukan hanya kata. Ketika tragedi runtuhnya bangunan pesantren terjadi, beliau tidak lari dari tanggung jawab. Sebaliknya, dengan hati tenang dan penuh keimanan, KH Abdussalam Mujib menyampaikan bahwa musibah tersebut adalah takdir Allah yang harus diterima dengan sabar. Pernyataan beliau bukan bentuk lepas tangan atau pembenaran atas runtuhnya bangunan di pesantrenya, tetapi ekspresi ketundukan spiritual seorang alim yang memahami bahwa segala yang terjadi di dunia ini tetap dalam kehendak Tuhan, meski manusia tetap berkewajiban berikhtiar dan memperbaiki.
Tragedi Al-Khoziny juga memantik tanggapan positif dari pemerintah yang segera melakukan pengecekan dan evaluasi terhadap standar bangunan pesantren di berbagai daerah. Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian negara terhadap keselamatan dan keberlangsungan pendidikan Islam tradisional. Namun, pengawasan teknis itu hendaknya tidak disertai stigmatisasi moral. Justru di sinilah dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan pesantren untuk memperkuat sistem keamanan tanpa merusak kepercayaan publik terhadap dunia santri.
Fakta sejarah membuktikan bahwa pesantren adalah lembaga yang paling konsisten dalam menjaga nilai kejujuran, kesederhanaan, dan cinta tanah air. Dalam dunia pesantren, penghormatan kepada kiai bukan bentuk feodalisme, melainkan adab dan pendidikan karakter yang menanamkan nilai tawadhu’ dan ta’dzim. Jika masih ada kekurangan di beberapa pesantren, hal itu harus dijawab dengan perbaikan, bukan dengan penghakiman. Sebab, pada dasarnya pesantren tidak berdiri untuk mencari keuntungan, melainkan untuk menjaga warisan ilmu, akhlak, dan iman. Pesantren di persimpangan persepsi publik sedang menghadapi ujian, antara realitas pengabdian dan pandangan miring yang terus berkembang. Namun, sejarah membuktikan bahwa pesantren selalu mampu bangkit dari tekanan zaman. Dengan membuka diri terhadap kritik konstruktif, menjaga transparansi, serta memperkuat kerja sama dengan pemerintah, pesantren akan tetap menjadi sumber cahaya bagi bangsa. Di balik mobil yang tampak mewah, di balik bangunan yang mungkin belum sempurna, tersimpan ketulusan dan perjuangan panjang para pengasuhnya yang berkhidmat bukan untuk kemuliaan pribadi, melainkan untuk kemaslahatan umat dan masa depan Indonesia.
Oleh : Moh Wahyudi (Wakil Sekretaris PCNU Pamekasan)

