Bahtsul Masail

Raket Elektrik Pembunuh Nyamuk Menurut Tinjauan Hukum Fikih

Di era modern ini, berbagai penemuan baru di bidang teknologi berkembang pesat dan turut mewarnai berbagai dimensi kehidupan manusia. Seperti alat yang banyak beredar di masyarakat berupa raket elektrik yang berfungsi sebagai alat pengusir bahkan pembunuh nyamuk. Di balik fungsi praktis dan efektifnya ternyata alat ini menyimpan banyak permasalahan yang menuntut umat Islam untuk berfikir ulang tentang status hukum penggunaannya.

Kelebihan raket elektrik ini dalam penggunaannya hampir tidak ada efek negatif yang ditimbulkan dibandingkan dengan alat lainnya seperti menggunakan asap, uap atau obat oles, yang akan membahayakan kesehatan jika digunakan secara terus-menerus dalam jangka waktu lama.

Penggunaan raket elektrik yang berfungsi membunuh nyamuk hukumnya haram, karena termasuk membunuh hewan dengan membakarnya, kecuali tidak ada cara atau alat lain yang lebih efektif untuk membunuhnya. Hal ini senada dengan hadits shahih yang dikutip oleh Syaikh Muhammad bin Salim dalam Is’ad al-Rafiq. Menurut hadits tersebut, yang berhak menghukum dengan cara membakar hanya Allah SWT. Oleh karenanya, menghukum dengan jalan membakar termasuk kategori kabair (dosa besar).

ومنها إحراق الحيوان بالنار سواء كان مأكولا أو غيره صغيرا أو غيره للحديث الصحيح “إني كنت أمرتكم أن تحرقوا فلانا وفلانا بالنار وان النار لا يعذب بها إلا الله فإن وجدتموهما فاقتلوهما” قال ابن مسعود رأى رسول الله قرية نمل أي مكانها قد حرقناها فقال من حرق هذه؟ قلنا نحن فقال رسول الله إنه لا ينبغى أن يعذب بالنار إلا ربها، فقال حرام مطلقا إلا أذا تعين الإحراق بها طريقا فى دفع عنه. قال فى الزواجر: وهو من الكبائر على الإطلاق سواء كان مأكولا أو غيره صغيرا أو كبيرا كما فى الروضة –إلى أن قال- فالتعذيب بالنار كالتعذيب باتخاذها غرضا أو أشد اهـ

Konsep syariah memberikan batasan-batasan dalam pencegahan dan pemusnahan hewan yang diperbolehkan untuk dibunuh, yaitu mencari cara yang paling baik untuk membunuhnya, tidak mengandung unsur penyiksaan, dan tidak membakarnya dengan api.

التَّعْرِيفُ :1-الإْحْرَاقُ لُغَةً مَصْدَرُ أَحْرَقَ. أَمَّا اسْتِعْمَالُهُ الْفِقْهِيُّ فَيُؤْخَذُ مِنْ عِبَارَاتِ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ أَنَّ الإْحْرَاقَ هُوَ إِذْهَابُ النَّارِ الشَّيْءَ بِالْكُلِّيَّةِ ، أَوْ تَأْثِيرُهَا فِيهِ مَعَ بَقَائِهِ، وَمِنْ أَمْثِلَةِ النَّوْعِ الأْخِيرِ : الْكَيُّ وَالشَّيُّ (2) الأْلْفَاظُ ذَاتُ الصِّلَةِ :2 – لِلإْحْرَاقِ صِلَةٌ بِأَلْفَاظٍ اصْطِلاَحِيَّةٍ كَثِيرَةٍ أَهَمُّهَا: أ-الإْتْلاَفُ: وَهُوَ الإْفْنَاءُ ، وَهُوَ أَعَمُّ مِنَ الإْحْرَاقِ .ب- التَّسْخِينُ: وَهُوَ تَعْرِيضُ الشَّيْءِ لِلْحَرَارَةِ ، فَهُوَ غَيْرُ الإْحْرَاقِ


Disarikan dari keputusan Bahtsul Masail LBM PCNU Pamekasan di kediaman K. Ach. Fudhali, S.Ag., Madrasah Darul Hikmah Desa Mapper (MWCNU ProppoHari Sabtu (Malam Ahad), Tanggal : 25 Rabi’ul Akhir 1436 H./14 Pebruari 2015 M.