NEWS

Terobos Lampu Merah, Kiai As’ad Marahi Sopir Pribadinya

PAMEKASAN — KHR. As’ad Syamsul Arifin merupakan murid langsung Syaikhana Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan. Kiai As’ad juga menjadi penyampai pesan berupa tongkat dan tasbih Syaikhana Kholil kepada Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai bentuk restu mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Tidak hanya itu, Kiai As’ad juga merupakan sosok yang tegas dan patuh terhadap undang-undang negara. Hal ini diungkapkan oleh salah satu cucunya Ny. Hj. Aisyatul As’adiyah atau yang akrab di sapa Neng Dya melalui akun facebook pribadinya, Ahad (04/11/2018).

Neng Dya menceritakan, suatu ketika dalam perjalanannya di Semarang, Kiai As’ad memarahi KH. Musyirin, sopir pribadinya, lantaran menerobos lampu merah. Seketika itu Kiai As’ad meminta berhenti. Tanpa menunggu pintu mobil dibukakan sang sopir, Kiai As’ad langsung turun dan marah.

Arapah be’na ma’ ta’ ambu ja’ badha lampu mera? (Kenapa kamu tidak berhenti, bukannya lampu merah?),” Tegur Kiai As’ad.

Dengan penuh takzim, sopir itu meminta maaf dan menjelaskan alasannya menerobos lampu merah.

Nyo’on saporah, abdhina cangkolang, Keaeh. Pekker abdhina ka’dintoh jelen preppa’en seppeh. (Mohon maaf, Kiai. Saya pikir jalanan sedang sepi),” jawab Kiai Musyirin.

Mendengar jawaban itu, Kiai As’ad marah besar.

Be’na kodhu ngarte ban mahami. Lampu lalu lintas ruwah undang-undang nagereh. Aruwah para pemimpin rapat rajeh biayana. Hormate! Ajinih undang-undang geruwa! Biaya se e angguy jiya obengah rakyat, obengah oreng benyak. Bisa dhusa ka reng benyak be’na. Biasa’agi ngabes lanjeng be’na, ja’ gun karo se paddeng! (Kamu harus tahu dan paham. Lampu lalu lintas itu undang-undang negara. (Lampu merah. Red.) itu para pemimpin rapat dengan biaya besar. Hormati! Hargai undang-undang itu! Biaya yang digunakan (rapat. Red.) itu uang rakyat, uang orang banyak. Bisa dosa kamu kepada mereka. Biasakan berpikir panjang. Jangan cuma memandang yang terlihat saja!” kata Kiai As’ad dengan nada tinggi.

Melihat gurunya marah besar, Kiai Musyirin tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya tertunduk dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Reporter: Ahnu
Editor: Wiyono