PAMEKASAN – SMA Ma’arif 1 Pamekasan kini jadi perbincangan hangat di Kabupaten Pamekasan. Sekolah yang dinaungi Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU tersebut punya keunikan di banding sekolah lainnya.
Keunikan tersebut tidak sebatas pada inovasi lingkungan sekolah yang menitiktekankan pada Double Track Mandiri. Namun, juga mengarah terhadap pelestarian warisan bangsa, yakni Galeri Batik NUsantara.
“Galeri Batik NUsantara ini membuat kami makin cantik. Tidak hanya cantik zahir, tapi tentu juga batin,” ungkap Ayu Safitrie saat ditemui di area Galeri Batik NUsantara SMA Ma’arif 1 Pamekasan, Sabtu (05/10/2019).
Gadis kelas XII IPS SMA Ma’arif 1 Pamekasan tersebut menjelaskan, pelestarian batik yang digenjot sekolahnya membuat para pelajar NU belajar banyak hal.
“Utamanya berkenaan dengan kesabaran, keuletan, tantangan seni, dan spirit kompetitif. Itu yang kami maksudkan cantik secara batin; inner beauty,” kata Ayu sembari tersenyum lebar.
Kesabaran dapat diperoleh kala menekuni dunia batik tulis. Sebab, pembuatan batik tulis, menurut Ayu, jauh lebih sulit ketimbang batik printing.
“Saat membatik, kita dituntut sabar. Di samping memakan waktu, juga kita mesti mengerahkan energi sembari fokus pada setiap titik kain yang kita batik,” ungkap Ayu.
Gadis molek cantik yang masih lajang itu menambahkan, pelajaran keuletan saat membatik tidak kalah pentingnya. Spirit etos kerja dapat tumbuh bersemi dalam diri pembatik.
“Kalau sudah biasa membatik, bisa dipastikan kita akan ulet dalam berbagai hal. Ini bekal penting sebelum kita nantinya terjun ke dunia usaha yang sesungguhnya,” terang Ayu.
Kata Ayu, tantangan seni menjadi salah satu ciri khas dalam membatik. Imajinasi dalam menggambar merupakan keasyikan tersendiri.
“Di awal-awal mungkin kita sedikit jenuh, utamanya bagi mereka yang belum terbiasa menggambar atau melukis. Tapi saat sudah membatik untuk kali ke sekian, kita akan merasakan kenikmatan yang memuncak,” ungkap Ayu.
Spirit kompetitif, tambahnya, tidak kalah pentingnya. Sebab, nantinya ini berujung pada persaingan positif dunia usaha.
“Tantangan yang sangat berat di spirit bersaing positif ini. Tapi ketika kita sudah sabar, tekun, dan menjadikan batik bagian dari kehidupan penting dalam hidup ini, persaingan usaha akan menjadi hal biasa. Kita bisa menikmatinya sepenuh jiwa raga cinta kita pada bangsa,” tukasnya.
Reporter: Anam
Editor: Ahnu

