PAMEKASAN – Korp PMII Putri (KOPRI) Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan masa khidmat 2019-2020 menggelar kajian rutinitas anggota, Jum’at siang (13/03/2020), di gedung lantai II kampus STAI-MU putri Kebun Baru, Kacok, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur.
Kajian yang menghadirkan Syaifullah Yusuf, mantan Presiden Mahasiswa (Presma) STAI-MU periode 2015-2016 tersebut bertema “Kami menolak Cantik”.
Syaiful menjelaskan, kata cantik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai makna indah secara umum. Lebih lanjut, ia menyebutkan, pertama kali kontes kecantikan diselenggarakan di Amerika pada abad 19 dipelopori oleh Erick, yang saat diteruskan oleh istrinya dengan menggunakan tiga konsep, yaitu kecerdasan, kecantikan dan kebribadian.
“Pada zaman sekarang ini banyak orang yang menyukai kecantikan dengan pemakaian kosmetik. Demikian orang yahudi memanfaatkan dengan salah satu metode kecerdasan, beauty atau kecantikan dan kebribadian. Dengan ini, orang yahudi memanfatkan orang-orang yang hanya fokus pada kecantikan,” ujar mantan Pengurus Cabang PMII Pamekasan tersebut.
Ia menambahkan, cantik rupa bukanlah nomor satu, melainkan cantik itu orang yang cerdas, bisa menjaga dirinya dalam segi membaca Al-Qur’an dan bisa menjaga sholat lima waktu.
“Kita sebagai santri jangan takut terhadap zaman, karena zaman harus ada dalam genggaman kita,” pesannya.
Sementara itu, Khoyyilah, Ketua KOPRI PK PMII STAI-MU mengharap, ke depannya kajian selalu berjalan secara efektif, agar mahasiswa memiliki wadah dalam mengasah intelektualitasnya
“Sehingga, mahasiswi STAI-MU mampu memberikan kontribusi positif terhadap kampus dan menjadi mahasiswa berkualitas yang mampu bersaing dengan kampus lain, meski basisnya pesantren,” harapnya.
Reporter: Umamah (NUO.03-39)
Editor: Aboonk

