NEWS

Ketua PCNU Pamekasan Jelaskan Sejarah Tradisi ‘Hari Raya Ketupat’

PAMEKASAN — ‘Hari raya ketupat’ merupakan ‘hari raya’ yang dilaksanakan pada tanggal delapan bulan Syawal. Pada hari raya ini, umat Islam biasanya merayakan dengan cara membuat ketupat dan memakannya bersama-sama orang terdekat.

Tradisi ini ialah salah satu metode dakwah Wali Songo membiasakan umat islam di Nusantara agar berpuasa enam hari di bulan syawal sesuai sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, nabi bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa satu tahun.”

Hal ini dijelaskan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, melalui akun Facebook pribadinya, Sabtu pagi (30/05/2020), sekira dua jam lalu.

“Maka cara Wali Songo untuk melaksanakan ajaran nabi tersebut adalah dengan membuat istilah ‘hari rayat ketupat’. Di mana setelah puasa Ramadhan, ada hari raya Idul Fifri tanggam satu Syawal, lalu dibuatlah istilah ‘hari raya ketupat’ yang bertepatan dengan tanggal delapan bulan Syawal,” tulis alumnus Ma’had Riyadhul Jannah, Rosefah, Arab Saudi itu.

Di sela-sela hari raya Idul Fitri itu, lanjut Kiai Taufik, ada waktu enam hari yang dimanfaatkan oleh Wali Songo guna menganjurkan umat Islam berpuasa, dan tanggal delapan Syawal ditetapkan sebagai ‘hari raya ketupat’, yaitu hari raya bagi orang yang berpuasa Ramadhan sekaligus hari raya bagi orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal.

“Meskipun sebenarnya, menurut sebagian ulama, puasa enam hari dalam hadis tersebut tidak harus dilaksanakan berturut-turut tiap hari melainkan boleh dipisah dengan hari lain. Yang penting masih dalam bulan Syawal,” imbuh mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kediri, Jawa Timur, itu.

Intinya, tegas kiai yang akrab disapa Ra Taufik itu, ‘hari raya ketupat’ merupakan metode dakwah Wali Songo agar umat Islam Nusantara melaksanakan sunah nabi, yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Ra Taufik menilai, cara dakwah tersebut sangat indah dan mudah diterima oleh umat Islam Nusantara, apalagi ditambah silaturahim, muwashalah sesama saudara, sanak famili, tetangga dan kerabat.

“Maka, ada di sebagian daerah umat Islam yang membudayakan puasa enam hari ini, bahkan ada juga sebagian masjid dan Musala yang selama malam tanggal 2 Syawal hingga malam tanggal 7 Syawal tetap membangunkan umat melalui speker untuk ibadah sahur seperti layaknya bulan Ramadhan,” pungkasnya.


Reporter: Aboonk
Editor: Ahnu