PAMEKASAN – Stigma buruk kerap kali menimpa seorang perempuan, menganggapnya lemah tanpa bisa melakukan aktivitas yang dinilai bukan kodrat dari Tuhan seperti bekerja, sekolah dan semacamnya. Dalam hal ini, kiranya perlu adanya kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.
Hal tersebut menjadi fokus kajian perdana Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Rayon FKIP (Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan) Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, Selasa sore (13/12/2022) di halaman kampus setempat.
Ketua KOPRI Rayon FKIP UIM Pamekasan, Harisatul Amaliyah mengutarakan, Kader KOPRI UIM ke depan harus lebih energik dan konsisten dalam berproses.
“Sejauh ini, Kader KOPRI UIM kurang responsif, padahal seorang perempuan harus tanggap untuk bisa memberi perubahan dan menjadi ibu [yang baik] bagi anak-anaknya,” ucapnya.
Mahasiswi Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) tersebut berharap, kajian perdana ini bisa memberikan semangat dan inspirasi kepada Kader KOPRI UIM Pamekasan, berproses dan berprestasi tanpa perlu ada perbedaan dengan laki-laki.
Hadir sebagai pemateri Sahabati Halimatus Sa’diyah, S.Pd. Dalam paparannya, Matus, sapaan akrabnya, menjelaskan, seorang perempuan tidak boleh stagnan di kasur, dapur dan sumur.
“Perempuan sama-sama punya peran, seorang perempuan harus bisa membuktikannya,” terangnya.
Di akhir paparannya, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKIS) Al-Mardliyyah Pamekasan tersebut berpesan, peran perempuan sama dengan laki-laki, hanya beda jenis kelamin saja. Kader KOPRI tidak boleh skeptis dalam menjalankan aktivitas terutama dalam organisasi.
“Kader KOPRI dituntut untuk bisa memberikan pemahaman atas perspektif kebanyakan orang yang memarginalkan gerak-gerik perempuan, sebab jika laki-laki bisa, perempuan juga bisa,” tutupnya.
Reporter: Ary Hidayad (MNU.V.10-005)
Editor: Redaktur

