News

Kiai Taufik Kisahkan Kekeramatan Kiai Ridwan, Pembuat Lambang NU, di Hadapan Ratusan Calon Banser

PAMEKASAN – Beberapa bulan lagi, jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) akan memasuki abad kedua, tepatnya Januari 7 Januari 2023. Organisasi yang didirikan 16 Rajab 1344 H di Surabaya ini lahir atas inisiatif para kiai pesantren serta para wali yang hatinya selalu bersambung kepada Allah SWT, seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri serta kiai lainnya. Hal ini yang menjadikan NU berdiri hingga sekarang.

Selain para inisiator tersebut, ada juga salah satu sosok penting dalam sejarah pendirian NU. Sosok ini ialah KH. Ridwan Abdullah, pencipta lambang organisasi sosial keagamaan tersebut. Penciptaan lambang NU penuh kisah mistis dan di luar nalar.

Kisah ini disampaikan oleh KH. Taufik Hasyim, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan, di hadapan 103 peserta Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbagun (Banser) Kecamatan Proppo, Jumat siang (30/12/2022), di Pondok Pesantren Hidayatun Najah, Dusun Kalimati, Samiran, Proppo.

“Hadratus Syekh Hasyim Asyari memerintahkan Kiai Ridwan untuk membuat lambang organisasi ulama-ulama pesantren yang kemudian di sebut NU ini. Selang beberapa hari, lambang organisasi yang diminta Kiai Hasyim Asyari belum rampung juga hingga beberapa hari menjelang muktamar, sedangkan Kiai Hasyim Asyari terus menanyakan hasil pembuatan logo NU,” tutur Kiai Taufik.

Karena terus dipertanyakan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari, lanjut Kiai Taufik, kemudian Kiai Ridwan meminta petunjuk kepada Allah saat melaksanakan salat tahajud. Selain itu, Kiai Ridwan juga memperbanyak salat hajat agar keinginan gurunya itu segera terwujud.

“Hingga suatu malam, usai salat tahajud dan salat hajat, Kiai Ridwan tertidur. Dalam tidurnya itu Kiai Ridwan bermimpi melihat ada bola dunia dikelilingi sembilan bintang dan ikatan tali, ada tulisan Nahdlatul Ulama dengan khath Arab. Bangun tidur, Kiai Ridwan langsung menggambarkan apa yang beliau lihat dalam mimpinya itu. Hingga jadilah lambang NU seperti yang kita kenal sekarang,” lanjut kiai muda yang pernah menuntut ilmu di Ma’had Riyadhul Jannah, Roseifah, Makkah, Arab Saudi ini.

Tidak hanya itu saja, kekeramatan Kiai Ridwan juga ditampakkan oleh Allah ketika mempresentasikan makna filosofis lambang NU pada pelaksanaan muktamar pertama. Lebih satu jam Kiai Ridwan memaparkan makna filosofis makna lambang yang dibuatnya secara lugas dan gamblang di hadapan sekira 5.000 muktamirin. Hal ini membuat Kiai Hasyim Asyari heran sekaligus kagum.

“Tadi kamu menjelaskan secara lugas dan gamblang. Kamu belajar dari mana bicara seperti itu?” ucap Kiai Taufik menirukan pertanyaan Kiai Hasyim Asyari kepada Kiai Ridwan.

Mendengar pertanyaan Kiai Hasyim Asyari, Kiai Ridwan bingung. Pasalnya, Kiai Ridwan sendiri tidak sadar atas presentasi dan pembicaraannya.

“Kamu tadi bicara panjang lebar memaparkan makna filosofis lambang NU yang kamu buat. Semua yang hadir kagum,” Kiai Taufik kembali menirukan ucapan Kiai Hasyim Asyari.

Menurut Kiai Taufik, kisah tersebut menjadi bukti kedekatan para ulama pendiri NU kepada Allah SWT.


Reporter: Ahnu