News

Makna Lailatul Ijtima’ Menurut KH. Baidowi Abshom

PAMEKASAN – KH Baidlowi Abdus Shomad (Abshom), jajaran Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Al Falah Sumber Gayam, Kadur, Pamekasan menyampaikan, istilah lailatul ijtima’ hanya ada di jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU); bukan milik organisasi lain. Hal ini disampaikan pada kegiatan Lailatul Ijtima’ Pengurus Ranting (PRNU) Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, di Masjid Nurul Abidin, Dusun Bulu, Rabu malam (11/01/2023).

“Lailatul Ijtima’ hanya milik Nahdlatul Ulama, tidak ada organisasi lain yang memiliki program bernama Lailatul Ijtima’. Kenapa? Sejarah telah mencatat bahwa melalui kesepakatan, KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dan KH Mohammad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, telah membagi tugas ladang dakwah: KH Mohammad Dahlan berdakwah di perkotaan, sedangkan KH. Hasyim Asy’ari berdakwah di pedesaan yang mayoritas sasaran dakwahnya adalah petani. Kegiatan petani itu dari pagi sampai siang bekerja, sorenya mencari rumput untuk ternaknya,” tuturnya.

Tak hanya menuturkan Lailatul Ijtima’ secara historis, Kiai Baidowi juga mengungkap makna istilah ini serta alasan pelaksanaan yang umumnya dilaksanakan pada malam hari tersebut.

“Namanya Lailatul Ijtima’, ya pasti di malam hari. Kenapa perkumpulannya dilaksanakan malam hari? Agar tidak menggangu aktivitas petani. Sehingga itulah yang menjadi alasan kenapa NU mudah diterima oleh masyarakat petani yang sebagian besar adalah jemaah dari organisasi ini,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Ust. Moh. Wafiq menyampaikan, pihaknya akan terus berupaya tetap istikamah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ke-NU-an, terlebih Lailatul Ijtima’.

“Kita sudah diwarisi Nahdlatul Ulama dengan paham Islam Ahlussunah Wa Jamaah An-Nahdliyyahnya, maka kewajiban kita adalah merawatnya. Kita harus terus merapatkan barisan, mengingat banyaknya paham-paham keagamaan,” pungkas Ketua PRNU Desa Larangan Luar tersebut.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Rais Syuriah PRNU Desa Larangan Luar, PR Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Larangan Luar, PR Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Desa Larangan Luar serta tokoh masyarakat setempat.


Kontributor: Bukhori
Editor: Redaktur