Kisah

Bukti Cinta Sang Kreator Shalawat Nahdliyah

اللهم صل على سيدنا محمد صلاة ترغب وتنشط وتحمس بها الجهاد لإحياء وإعلاء دين الإسلام وإظهار شعائره على طريقة جمعية نهضة العلماء وعلى اله وصحبه وسلم الله الله الله الله ثبت وانصر اهل جمعية جمعية نهضة العلماء لإعلاء كلمة الله

Artinya: “Ya Allah berselawatlah dan bersalamlah kepada Sayyidina Muhammad dengan bacaan selawat yang membuat kami menjadi senang, rajin dan bersemangat dalam berjuang dan menghidupkan dan meninggikan syiar agama Islam serta menampak syiar-syiar Islam menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Dan berselawat dan bersalam pulalah kepada para keluarga nabi dan para sahabatnya. Allah, Allah, Allah, Allah. Teguhkanlah dan tolonglah seluruh warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk meninggikan kalimat Allah (agama Islam beserta seperangkat ajarannya).”

Shalawat Nahdliyah, yang begitu populer dan digemari Nahdliyin, ternyata lahir dari sosok ulama kharismatik nan tersohor KH Hasan Abdul Wafi. Pemilik nama asli Abdul Wafi ini lahir di Desa Sumberanyar, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan pada tahun 1923, dari pasangan KH Miftahul Arifin dan Nyai Lathifah.

Semasa kecil ia mendapat pendidikan agama dari ayahnya selama sebelas tahun. Di usianya yang masih sangat belia, ia sudah menghafal seribu bait Alfiyah karangan Ibnu Malik itu.

Setelah bekal ilmunya dirasa cukup, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Palengaan, Pamekasan, asuhan KH Abdul Majid. Selanjutnya, atas izin dari gurunya, KH Abdul Majid, ia berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji, belajar dan tabarrukan kepada para Masyayikh di sana.

Sepulang dari Makkah, ia dan kakaknya, KH Achmad Sufyan, belajar kepada KH Sahlan Krian Sidoarjo, kemudian KH Romli Tamim di Pondok Pesantren Paterongan Jombang, Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, dan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo yang diasuh KH Zaini Mun’im.

Karena memiliki peran besar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, ia dinikahkan dengan putri KH Zaini Mun’im, yakni Nyai Hj Aisyah. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai 12 putra dan putri.

Kiai Hasan Abdul Wafi dikenal sebagai figur yang disiplin dan tegas dalam urusan belajar mengajar, sehingga di Pondok Pesantren Nurul Jadid ia dipercaya untuk mengajar kitab Iqna‘, Tafsir Jalalain, Syarah Ibnu Aqil, dan banyak lagi kitab lainnya.

Ia juga aktif mengajar di Madrasah Muallimin selama enam tahun. Serta mengajar di Akademi Dakwah dan Ilmu Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU) dan Perguruan Tinggi Ilmu dan Dakwah (PTID) Nurul Jadid, yang kemudian berubah Nama menjadi IAI Nurul Jadid, dan sekarang menjadi Universitas Nurul Jadid (Unuja). Selain mengajar, ia jaga dipasrahi sebagai Dewan Pengawas di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Selain di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kiai Hasan Abdul Wafi juga aktif mengajar di Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Banyuputih, Situbondo. Dalam memberi kuliah di Ma’had Aly, ia dikenal sebagai seorang yang sangat ketat dan teliti dalam memaknai kitab.

Khidmat untuk Nahdlatul Ulama

Tak hanya mengabdikan diri untuk pendidikan dan Dakwah, Kiai Hasan Abdul Wafi juga mengabdi di Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ia termasuk orang yang beruntung karena ia memperoleh sanad ke-NU-an dari KH As’ad Syamsul Arifin, yang merupakan mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.

Dari Kiai As’ad inilah ia banyak belajar tentang bagaimana merawat, memperjuangkan, dan mencintai NU. Sehingga timbul rasa cinta dan rasa memiliki yang luar biasa terhadap organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang didirikan oleh Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari ini.

Bukti kecintaan Kiai Hasan Abdul Wafi terhadap NU diwujudkan ketika kakak kandungnya, KH Achmad Sufyan Miftahul Arifin, menganjurkan agar menjadi mursyid tarekat. Karena sikap tegas dan kerasnya, ia malah menolak anjuran tersebut. Khidmatnya hanya untuk NU, tidak bisa menjadi mursyid. “Biarkanlah saya NU saja. Wirid-wiridnya, wirid NU saja,” ujarnya kala itu.

Kecintaan ini juga ia tanamkan terhadap santrinya. Ketika mengajar, ia selalu menyelipkan pembahasan tentang NU. Selain itu, Kiai Hasan Abdul Wafi tidak pernah lelah dalam mengingatkan santrinya agar selalu membela dan memperjuangkan NU, serta agar menjaga NU agar tidak menyimpang dari khitthah yang digariskan para pendiri.

Berkat kepedulian dan kecintaanya terhadap NU, ia diamanahi sebagai Rais PCNU Kraksaan selama dua periode. Selama Kiai Hasan Abdul Wafi menjabat sebagai Rais PCNU Kraksaan, ia selalu disiplin dan memberikan teladan dengan datang awal saat ke kantor, mengajar, hingga menghadiri majelis.

Kiai Hasan Abdul Wafi menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 31 Juli 2000 dan dimakamkan di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Meski telah wafat, namanya tetap dikenang di hati Nahdliyin. Ia menciptakan lagu Shalawat Nahdliyah karena didorong begitu dalam rasa cintanya untuk NU.


Disadur dari Majalah Nahdlatul Ulama Aula, edisi 3, tahun XLVI, Maret 2024.