PAMEKASAN – Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan menggelar apel akbar, Kamis (22/10/2026) di lapangan utama pesantren setempat. Sebanyak 1.120 santri dari semua satuan pendidikan, mulai tingkat Ibtidaiyah sampai Aliyah, baik formal maupun diniyah, turut menjadi peserta dalam agenda tahunan ini.
Ust. Ali Ghufron, Dewan Pertimbangan dan Keamanan (DPK) Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet, kepada Media NU Pamekasan mengatakan, Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengingat kembali perjuangan dan pengorbanan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. melalui kegiatan ini, diharapkan mempererat dan mengokohkan hubungan hubungan kelembagaan yang ada di lingkungan pondok pesantren.
“HSN adalah alarm bagi kita untuk terus mengingat perjuangan dan pengorbanan santri-santri dalam menciptakan kemerdekaan untuk negara tercinta kita Indonesia; dan mari jadikan momentum Hari Santri Nasional ini sebagai penegasan kembali dalam memperkokoh koneksi antar kelembagaan yang ada di lingkungan pondok pesantren tercinta kita,” ujar Ust. Ghufron, sapaan akrab Ust. Ali Ghufron.
Dalam amanatnya, Ust. Ghufron menegaskan, kewajiban santri tidak sekadar belajar dan mengkaji kitab-kitab turas, santri juga berkewajiban untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dicontohkan para ulama dan santri terdahulu.
“Agama tidak bisa tentram tanpa sebuah negara, begitupun sebuah negara tidak akan kokoh tanpa di dasari agama. Jadi memperjuangkan negara nilainya sama dengan memperjuangkan agama seperti Resolusi Jihad yang sudah dipekikkan oleh hadratussyeikh KH. Hasyim Asyari,” jelasnya.
Mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, Ust. Ghufron mengatakan, agama dan negara merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling membutuhkan. “Agama adalah fondasi, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa fondasi, maka akan gampang roboh, dan sesuatu tanpa penjaga akan mudah dihancurkan,” imbuh Ust. Ghufron.
Di akhir amanatnya, Ust. Ghufron kembali menegaskan kewajiban santri memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Pasalnya, menurut Ust. Ghufron, santri harus berada di garda terdepan saat dibutuhkan negara.
Reporter: Atik Arifana (MNU-X. 10.004)
Editor: Ahnu

