Tidak berhenti di situ, lanjut Hamdani, sebagai representasi kebijakan NU di bidang seni budaya, kini Lesbumi dihadapkan dengan tantangan baru di wilayah gagasan ide. Perkembangan globalisasi dan ideologi transnasional menjadi tantangan baru Lesbumi saat ini. Sebab, keduanya memengaruhi perkembangan seni budaya.
“Itulah sebabnya, dihadirkan sejarah Lesbumi dan sejarah manuskrip NU, termasuk kekayaan keris dan pusaka lainnya, untuk meningkatkan kesadaran terhadap ke-Indonesia-an, khususnya ke-Madura-an,” sambung alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (Uinsuka) Yogyakarta itu.
Lebih lanjut, Hamdani memaparkan, harlah ke-60 Lesbumi merupakan momentum refleksi sejarah. Baik sejarah sebagai suatu fakta, maupun sebagai nilai. Bukti autentik fakta sejarah NU dan Lesbumi sangat jelas. Bahkan dihadirkan dalam pameran yang digelarnya. Sejarah sebagai metahistoris, ada banyak kearifan yang bisa diambil dari masa lalu.
Menurut Hamdani, Lesbumi berperan besar dalam arus kebudayaan di Nusantara. Bahkan, tiga tokoh pendiri Lesbumi yaitu Djamaluddin Malik, Usmar Ismail dan Asrul Sani merupakan seniman berpengaruh di Indonesia. Atas perannya di bidang seni budaya, Usmar Ismail dikenal sebagai bapak perfilman Indonesia. Bahkan pada hari pahlawan nasional 2021, Presiden Joko Widodo menyematkan gelar pahlawan nasional kepadanya.
“Jadi kami perlu mengenalkan, memberi kesadaran kepada khalayak, bahwa Lesbumi itu punya peran besar dalam arus kebudayaan di Nusantara,” pungkas alumnus Pondok Pesantren Al-Amien, Prenduan itu.
Untuk diketahui, dalam acara pembukaan harlah Lesbumi ke-60 dihadiri oleh sejumlah pejabat PCNU Pamekasan, ketua Dewan Kesenian Pamekasan (DKP), perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan, dan Ketua Muslimat NU Pamekasan. Sejumlah komunitas kesenian turut hadir memeriahkan harlah Lesbumi ke-60 di Kafe Manifesco.
Reporter: Ali Wafa
Editor: Redaktur

