PAMEKASAN – Lahir pada 28 Maret 1962, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) kini genap berusia 60 tahun. Guna memperingati hari lahir (harlah) ke-60 itu, Lesbumi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan menggelar serangkaian giat kebudayaan, mulai 27-29 Maret 2022 di Kafe Manifesco, Desa Jalmak, Pamekasan.
Selama tiga hari itu, Lesbumi menggelar pameran budaya. Yang dipamerkan antara lain; arsip, dokumentasi sejarah NU, keris dan pusaka, serta lukisan dan sketsa wajah tokoh-tokoh NU. Barang-barang bersejarah itu dihimpun dari berbagai sumber dan tokoh sepuh NU di Pamekasan.
Salah satu arsip yang diabadikan yaitu Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) tahun 1926, masa awal berdirinya NU. Lesbumi juga memamerkan kitab-kitab klasik karya ulama NU Pamekasan. Namun, karena usia barang yang rentan rusak, sebagian hanya dihadirkan dalam bentuk gambar.
Tidak hanya itu, rangkaian harlah Lesbumi ke-60 juga diisi dengan pidato kebudayaan dan sarasehan tentang keris, serta kearifan Madura lainnya. Kemudian, sebagai puncak kegiatan Lesbumi memeriahkannya dengan pentas musik unen-unen Tuban dan lantunan macopat oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pasean.
Ketua Lesbumi PCNU Pamekasan, Hamdani menuturkan, lahirnya Lesbumi untuk merespon setiap keadaan, terutama dalam hal kebudayaan. Sejak awal berdiri, Lesbumi langsung dihadapkan dengan dua tantangan; komunisme dan liberalisme. Pada tahun 60-an, dua paham tersebut gencar merongrong budaya.
“Kami ingin mengenalkan, Lesbumi itu bukan semata-mata organisasi yang lahir dari kehampaan sejarah. Artinya, Lesbumi lahir ada motifnya, ada tujuannya,” ucap pria 35 tahun itu, Ahad malam (27/3/2022).

