PAMEKASAN — Istilah organisasi itu diambil dari bahasa arab jam’iyah atau jama’ah. Itulah pembuka ceramah KH. Abdullah Samsul Arifin atau yang akrab disapa Gus Aab, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa Timur pada acara NU Branta Bersholawat dan Pelantikan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Branta, Kamis malam (31/10/2019).
Pada acara yang digelar di Dermaga Branta Pesisir, Tlanakan, Pamekasan, Jawa Timur tersebut, Gus Aab menjelaskan konsep ideal berorganisasi melalui prinsip-prinsip salat berjemaah. Menurutnya, Paling tidak ada empat prinsip dalam salat berjemaah yang bisa diterapkan: pertama, niatan bersama; kedua, adanya imam atau pimpinan yang dipilih; ketiga, aturan main yang disepakati bersama; keempat, jemaah atau makmum.
Lebih lanjut, Gus Aab menyebutkan, konsep ideal organisasi tersebut biasa digunakan pengurus NU. Ia menjelaskan, tujuan utama berdirinya NU ialah berlakunya ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di tengah-tengah masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Tidak boleh ada gerakan yang keluar dari tujuan utama itu. Terkadang, ada yang tidak paham, sehingga NU dianggap ikut politik. Padahal, NU bukan partai politik, tapi NU butuh perlindungan politik, cuma jangan diidentikan, karena tujuan utama NU adalah berlakunya ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dalam wadah NKRI,” imbuhnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arifin Jember itu menekankan pentingnya belajar tentang NU dari pedoman dan dasarnya langsung, sehingga tidak ada anggapan NU anti terhadap penerapan syariah Islam di Indonesia.
“Jika ingin tahu NU, jangan cuma memotret sebagian perilaku warganya yang belum tentu benar, apalagi mendengar perkataan dari orang lain yang memang sengaja ingin melakukan rongrongan dan pelemahan terhadap peran dan fungsi NU,” tegasnya.
Gus Aab kemudian menceritakan perjuangan Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari saat mendirikan Nahdlatul Ulama. Ia menjelaskan alasan berdirinya NU ialah menyatukan langkah ulama dalam satu wadah yang dikomando oleh seorang pemimpin.
“Jadi, tidak usah punya pikiran membesarkan NU, karena NU sudah besar. Yang dikhawatirkan, keberadaan kita di NU malah merusak NU. Kita berada di NU ini untuk merawat dan memperbaiki diri,” imbaunya.
Selain Gus Aab, acara itu Juga mendatangkan KH. Hariri Abdul Adhim, Komandan Dakwah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa Barat.
Reporter: Abror
Editor: Ahnu

