“Pada kepengurusan kami, ada beberapa program yang telah dilaksanakan, tinggal bagaimana nanti melanjutkan. Beberapa program di antaranya, kami sudah membentuk dua puluh PR dan PK. Saya berharap, PR dan PK dapat terbentuk di semua desa dan lembaga pendidikan,” tangkasnya.
Mewakili Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Palengaan, H. Ali Wafa, mengingatkan seluruh kader IPNU-IPPNU yang hadir agar tidak melupakan nilai-nilai pesantren.
“NU adalah pesantren besar, pesantren yang ada ini merupakan pesantren kecil. Oleh karena itu, setiap pelaksanaan kegiatan-kegiatan Lembaga dan Banom (Badan Otonom, Red) NU jarang dilaksanakan di hotel-hotel, tapi di pesantren. Maka dari itu, kami minta agar adik-adik ini tidak melupakan nilai-nilai pesantren,” ucap mantan pengurus PAC IPNU Kecamatan Palengaan itu.
Keberlangsungan NU, lanjut Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Palengaan itu, sangat tergantung dan bisa dilihat berdasarkan keberadaan atau eksistensi IPNU-IPPNU saat ini.
“Karena kita tahu NU merupakan organisasi terbesar di Indonesia bahkan dunia. Kondisi ini sangat berat untuk mempertahankan kebesarannya dari masa ke masa. Banyak organisasi terombang-ambing karena ketuanya tidak mulai kaderisasi dari bawah,” pungkasnya.
Selain diikuti delegasi PR dan PK IPNU-IPPNU se-Kecamatan Palengaan, tampak hadir juga pada acara pembukaan ketua-ketua Lembaga dan Banom di lingkungan MWCNU Kecamatan Palengaan serta Majelis Alumni (MA) IPNU-IPPNU Kecamatan Palengaan.
Reporter: Ahnu
Editor: Redaktur

