PAMEKASAN – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, menanggapi beredarnya pesan suara yang berisi ujaran kebencian terhadap NU serta pendiri organisasi tersebut, KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Ia menyayangkan munculnya rekaman tersebut, terlebih di bulan Ramadan, saat umat Islam tengah fokus beribadah, terutama di sepuluh hari terakhir yang penuh dengan keutamaan.
“Saya sangat menyayangkan beredarnya rekaman suara tersebut, apalagi ini terjadi di penghujung Ramadan, saat umat Islam sedang bersemangat mengejar fadilah bulan suci ini,” ujar Kiai Taufik kepada kru media NU Pamekasan, Ahad (30/03/2025).
Kiai Taufik mengungkapkan sejak rekaman tersebut tersebar, dirinya menerima banyak pesan dan telepon dari warga serta pengurus NU, tidak hanya dari Pamekasan tetapi juga dari Bangkalan, Sampang, dan Sumenep bahkan luar Madura. Banyak yang menyatakan kemarahan dan bahkan siap mendatangi pemilik suara tersebut, yang menurut tim siber NU serta laporan beberapa pengurus ranting, identitasnya sudah diketahui.
Meski demikian, Kiai Taufik mengimbau seluruh warga dan pengurus NU agar tetap tenang serta tidak bertindak di luar kendali.
“Saya mengajak seluruh warga NU, khususnya di Pamekasan dan Madura pada umumnya, untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan apa pun terkait rekaman suara tersebut. Mari kita jaga kesucian bulan Ramadan dan fokus beribadah di hari-hari terakhir ini agar kita benar-benar kembali ke fitrah saat idulfitri nanti,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kiai Taufik mengatakan, PCNU Kabupaten Pamekasan, melalui tim hukum, sedang mengkaji kasus tersebut. Tidak hanya itu, pihaknya juga akan meminta banyak masukan berbagai pihak termasuk Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, sebab yang disebut dalam pesan suara tersebut pendiri NU dan tokoh NU Nasional. Menurut Kiai Taufik, yang tersinggung bukan hanya warga NU Madura, melainkan seluruh warga NU nasional.
“Kita akan menyikapi persoalan ini setelah idulfitri. Sebab, isi rekaman tersebut sangat tidak sopan, mencederai kesucian Ramadan, dan melukai hati warga NU, terutama karena menyebut nama pendiri NU dan Gus Dur dengan bahasa yang kurang etis,” jelasnya.
Pewarta : BT Editor: Redaktur

