BANDAR LAMPUNG — Usai ditunjuk sebagai anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) oleh forum Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama, sembilan kiai sepuh menggelar sidang guna menentukan Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2021-2026.
Tercatat KH Dimyati Rais memperoleh suara tertinggi, sebanyak 503 suara PCNU dan PWNU. Disusul KH Mustofa Bisri sebanyak 494, KH Ma’ruf Amin 458, KH Anwar Mansur 408, KH TG Turmudzi 403, KH Miftakhul Achyar 395, KH Nurul Huda 384, KH Buya Ali Marbun 309, dan KH Zainal Abidin 272.
Meski memperoleh suara terbanyak, KH Dimyati Rois enggan memimpin sidang AHWA. Kiai asal Jawa Tengah ini malah menunjuk KH. Ma’ruf Amin memimpin jalannya sidang.
“Sebenarnya beliau juga tidak mau memimpin (sidang AHWA, Red.), tetapi semua juga anggota AHWA tidak bersedia kalau bukan KH. Ma’ruf Amin yang memimpin. Suasana sangat akrab sekali, penuh dengan kekeluargaan, bahkan dengan keadaban, sopan santun, akhlak yang ditunjukkan oleh kiai-kiai kita. Benar-benar menjadi teladan buat kita semua keluarga besar jam’iyah Nahdlatul Ulama,” jelas KH. Zainal Abidin sesaat sebelum mengumumkan keputusan sidang AHWA, Jumat dini hari (24/12/2021), di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, Raja Basa, Bandar Lampung.
Kiai Zainal melanjutkan, ketika pimpinan AHWA meminta anggotanya memberikan pandangan dan pendapat terkait calon Rais ‘Aam, peserta sidang tidak ada yang berani mengusulkan satupun calon pemimpin tertinggi di lingkungan NU itu. Semua anggota AHWA, merasa tidak pantas mengusulkan, karena masih ada anggota lain yang lebih tua dan lebih layak berpendapat.
“Diserahkan kepada KH. Ahmad Mustofa Bisri, beliau berkata, masih ada kiai lain yang lebih, ada Kiai Dimyati yang lebih senior, yang lebih afqah, katanya. Saya tidak patut untuk berpendapat melebihi pendapat beliau. Sekali lagi, keadaban ditunjukkan oleh sesepuh kiai kita,” lanjut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah itu.
Di akhir penyampaiannya, Kiai Zainal menyampaikan, pimpinan sidang kemudian menunjuk salah satu anggota agar mengusulkan nama calon Rais ‘Aam PBNU. Berdasarkan keinginan dan aspirasi peserta muktamar, akhirnya diusulkan KH. Miftachul Akhyar. Usulan ini tidak ada yang menentang. Semua anggota AHWA bersepakat.
Reporter: Ahnu
Editor: Redaktur

