PAMEKASAN — Kepergian Samhari Effendy, Banser senior Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Pamekasan, menyisakan duka yang sangat dalam bagi warga NU, tidak terkecuali Mustasyar PCNU Pamekasan, KH. Muhammad Muddatstsir Badruddin.
Melalui rilis yang diterima NU Online Pamekasan, Selasa malam (22/06/2021), Kiai Muddatstsir mengatakan, mendiang Samhari merupakan Banser teladan yang sangat aktif di NU, patuh dan sangat simpati kepada ulama. Terbukti, menurut Kiai Muddatstsir, setiap acara besar di pesantren yang diasuhnya, almarhum selalu terlibat aktif bersama pasukannya.
“Layak dibantu sholat ghoib oleh para ashhab (sahabat-sahabat, Red.) di mana saja. Kalau kebetulan ada Yasin-an, Tabarok, tahlil, pantas digabungkan. Dia meninggal karena mabthun (penyakit dalam, Red.), malam harinya masih mengikuti bacaan-bacaan Quran dan tahlil di PCNU Pamekasan untuk al-maghfur lahu KHA. Nawawi Abd. Djalil Sidogiri,” jelas Kiai Muddatstsir.
Baca juga: Innalillahi Wa Inna Ilayhi Raji’un. Banser Senior Pamekasan Wafat
Kiai yang saat ini juga menduduki jajaran Mustasyar PWNU Jawa Timur itu menilai, kematian almarhum Samhari termasuk pada kategori syahid berdasarkan tiga indikasi: pertama, mabthun; kedua, fuj’ah (meninggal secara mendadak); tiga, gharib atau meninggal di luar rumah.
Lebih lanjut, Kiai Muddatstsir memaparkan, almarhum bisa memberikan syafaat kelak di Mahsyar.
“Sangat mungkin di Mahsyar dia menyapa orang-orang yang sayang padanya. Dia berhak memberi syafaat kepada yang dikenal akrab. Amin,” pungkas Pengasuh PP Miftahul Ulum Panyeppen, Potoan Laok, Palengaan, Pamekasan itu.
Reporter: Zainal
Editor: Redaktur

