PAMEKASAN – Tahun 2.000 seakan menjadi awal perubahan kehidupan seluruh komponen masyarakat Indonesia. Di tahun itu masyarakat dituntut supaya selalu meningkatkan kreatifitas agar dapat berkompetisi dalam mengisi kemerdekaan. Tahun berganti, tuntutan pun turut berubah.
Hal ini disampaikan Syafi’uddin, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur, pada acara Konferensi Anak Cabang (Konferancab) III Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Batumarmar, Ahad (30/04/2023), di kantor kecamatan setempat.
Awal era reformasi, ucap pemuda yang akrab disapa Kak Syafi’ ini, masyarakat Indonesian dituntut agar kreatif dan selalu berkarya menciptakan sesuatu yang baru
“Di tahun dua ribuan publik kampus dan seluruh komponen negeri kita ini meminta agar warga Indonesian untuk kreatif [tidak diam] berbuat sesuatu,” lanjut pria asal Desa Tagangser Laok, Kecamatan Waru tersebut.
Sepuluh tahun berikutnya, menurut Kak Syafi’, masyarakat dituntut agar lebih inovatif. Satu dekade selanjutnya tuntutan kembali berubah: masyarakat dituntut gerak cepat.
“Pada tahun 2.010 kreatif sudah tidak laku, diganti inovatif, dan pada tahun 2.019 semua tidak dibutuhkan, lagi diganti gerak cepat. Contohnya sekarang, orang sabit rumput pun pakai COD (Cash On Delivery, Red),” kelakar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan ini.
Kontributor: Rosyidi (MNU.VI.03-002)
Editor: Ahnu

