NEWS

Lebih Plural, Gadis Non-Muslim Nyaman di PMII

PALU – Mega Mustika (20), dara cantik asal Toraja, Sulawesi Selatan ini merupakan penganut agama Kristen Protestan yang taat. Meski demikian, dia memutuskan untuk bergabung dengan organisasi kemahasiswaan yang lahir dari Nahdlatul Ulama yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Pertama kali masuk kampus di Universitas Negeri Manado (UNIMA), dara berkacamata ini membulatkan tekadnya untuk tidak hanya duduk manis di bangku kuliah.

“Saya langsung mencari organisasi ekstra kampus, hingga akhirnya ada senior yang mengarahkan saya untuk masuk PMII,” ungkapnya kepada NU Online Pamekasan, Ahad (21/05/2017) di depan Masjid Agung Palu, saat mengikuti perkembangan Kongres PMII ke-19 dari luar ruang sidang.

Mega menambahkan, awalnya merasa ragu untuk bergabung dengan PMII, namun setelah mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) yang merupakan proses kaderisasi tahap awal di PMII, dirinya merasa semakin mantap untuk ber-PMII

“Karena bukan hanya saya, tapi ada sebanyak 27 orang yang sama dengan saya (non-Muslim. Red.). Ini semakin memantapkan saya untuk terus berproses di PMII,” tegas gadis bertubuh mungil ini.

Di tempat dan waktu yang sama, Egi, Pengurus Cabang PMII Minahasa membenarkan penuturan Mega. Menurutnya, keberadaan non-Muslim yang masuk PMII di Minahasa sudah ada sejak lama.

“Ini berkat Gus Dur, karena beliau dulu pernah datang ke Minahasa, sehingga Islam bisa diterima, meski di sana (Minahasa) sampai saat ini minoritas. Jadi, kami tidak membutuhkan lagi teori pluralisme, karena setiap hari langsung dipraktekkan,” jelas pria yang juga kuliah di UNIMA tersebut.

Minahasa merupakan salah satu daerah di Sulawesi Utara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Reporter: Abror
Editor: Ahnu Idris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *