Giat ini direspon positif oleh pihak pesantren. Terbukti para santri dan pengurus pesantren tampak sangat antusias mengikuti setiap rangkaian acara dan pemaparan para narasumber, serta mempraktekkan langsung di kebun milik pesantren.
“Kami menyambut baik dan sangat berbahagia, karena ke depan saya mengharapkan santri-santri kami setelah terjun di masyarakat tidak hanya dikenal oleh masyarakat menekuni ilmu agama, tapi betul-betul punya kegiatan yang betul-betul terampil, bermakna, penuh hikmah di tengah-tengah masyarakat utamanya kepada keluarganya,” ucap KH. Saifuddin Syam, pengasuh PP Mifathul Hidayah.
Menurut Kiai Say, sapaan akrabnya, masyarakat Madura, terutama santri-santri di pesantren yang diasuhnya rata-rata berlatar belakang petani dan peternak. “Jadi, kami menginginkan bahwa pertanian yang dikelola setelah terjun ke masyarakat masing-masing tidak hanya kembali pada pertanian dan peternakan sebagaimana dilakukan orang tuanya, sehingga lebih bermutu, lebih bermanfaat dan lebih maksimal dalam bertani,” lanjut Wakil Rais PCNU Kabupaten Pamekasan itu.

Lebih lanjut, pihaknya akan turut serta berperan aktif menyikapi masalah ketahanan pangan. “Penanaman saat ini merupakan tahap awal. Mungkin ke depannya bisa penanaman yang terkait dengan bahan pokok seperti jagung, padi dan lain sebagainya,” imbuh Kiai Say.
Selain itu, alumnus PP Miftahul Ulum Bettet Pamekasan tersebut mengimbau kepada semua jajaran pengurus pesantren dan lembaga agar proaktif dalam hal ketahanan pangan.
“Dan semua pihak-pihak yang terkait: dari Kementerian Agama, dari DKPP, termasuk dari LPPNU utamanya Kabupaten Pamekasan agar terus membangun kemitraan dengan kami di pesantren, sehingga apa yang kami bangun saat ini (silaturrahim) bisa terus berkesinambungan dan menghasilkan sesuatu yang maksimal,” pungkasnya.

