News

MA Al-Khadijah Siapkan Calon Pemimpin Umat Melalui Tahfiz Munjiyat

PAMEKASAN — Madrasah Aliyah (MA) Al-Khadijah Sumber Kuning Palengaan, Pamekasan kembali menegaskan komitmennya mencetak calon pemimpin umat sekaligus memperkuat tradisi keilmuan melalui program Tahfiz Munjiyat yang berjalan sejak 2020 lalu.

Ust. Hermawan, salah satu pengajar Tahfiz Munjiyat mengatakan, program ini tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga membentuk kesiapan siswa untuk berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menjelaskan, tujuan utama program Tahfiz Munjiyat ini agar seluruh siswa MA Al-Khadijah memiliki kemampuan menghafal tujuh surah penting yang sering digunakan dalam kegiatan masyarakat, seperti tahlil, Surah Yasin, Al-Mulk, dan Al-Waqiah.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya bisa menghafal, tapi juga mampu berinteraksi dengan masyarakat. Surah-surah dalam Munjiyat ini sangat sering digunakan, sehingga penting untuk dikuasai,” ujarnya.

Kegiatan ini diwajibkan bagi seluruh siswa kelas X hingga XII, baik laki-laki maupun perempuan. “Semua siswa wajib mengikuti, bukan hanya kelompok tertentu. Kami ingin semuanya bisa menghafal Munjiyat,” tambah Ust. Hermawan.

Dalam hal prestasi, setiap tahun madrasah mengadakan lomba tahfiz Munjiyat dan banyak siswa berhasil meraih juara. Namun, untuk tingkat luar sekolah, belum tersedia perlombaan khusus kategori Munjiyat. “Kalau untuk kategori hafalan lain seperti Juz 30 atau Juz 1–30 itu ada, tapi Munjiyat belum tersedia di luar,” jelasnya.

Pelaksanaan Tahfiz Munjiyat berlangsung di lingkungan MA Al-Khadijah, tepatnya di setiap kelas dengan jadwal yang berbeda. Sebelum menyetor hafalan di sekolah, siswa diwajibkan menghafal terlebih dahulu di rumah agar proses penyetoran menjadi lebih efektif. “Waktu di sekolah terbatas, jadi anak-anak harus menghafal dari rumah. Caranya bertahap, sedikit demi sedikit,” terangnya.

Jadwal pelaksanaan tahfiz dibagi menjadi dua: kelas X dan XI pada hari Selasa, sedangkan kelas XII pada hari Rabu. Pembagian ini dilakukan agar proses hafalan tidak menumpuk dan tetap terarah.

Dalam metode pembelajaran, Ustaz Hermawan menekankan pentingnya ketepatan bacaan sebelum menghafal. “Sebelum mulai menghafal, mereka harus bisa membaca dengan benar. Panjang pendek dan makhrajnya harus tepat. Kalau bacaan dasarnya salah, hafalannya juga ikut salah,” tegasnya.

Menutup wawancara, ia menyampaikan harapan besarnya bagi para peserta didik. “Semoga anak-anak kami menjadi pribadi yang bermanfaat bagi dirinya, orang tuanya, gurunya, dan masyarakat. Menghafal Al-Qur’an memang tidak mudah, tapi kami terus mendidik agar mereka mampu membaca dan menghafal dengan baik,” pungkasnya.


Kontributor: A. Zahrul Gunawan (MNU-IX.10.026)

Editor: Redaktur