NEWS

Ngaji Budaya, Teater Fataria IAIN Madura Datangkan D. Zawawi dan Sujiwo Tejo

PAMEKASAN — Sebagai bentuk refleksi dan melestarikan budaya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Fataria Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menggelar Talk Show Kebudayaan bersama D. Zawawi Imron dan Sujiwo Tejo, Ahad malam (24/02/19) di halaman Gedung Pascasarjana.

Kedatangan dua budayawan nasional ke kampus IAIN Madura tersebut disambut oleh Moh. Raja’e, Wakil Bupati Pamekasan, Mohammad Hasan selaku Wakil Rektor 3, Kapolres Pamekasan, Dandim 0826 Pamekasan, serta ratusan mahasiswa dan masyarakat se-Madura.

Kegiatan bertema “Seni dan Budaya Identitas Nusantara” tersebut di meriahkan penampilan pembacaan puisi, dan tarian khas lokal Madura oleh UKM Teater Fataria.

Kepada NU Online, Rofiki Ali selaku Ketua Panitia mengungkapkan, acara tersebut sebagai refleksi dalam mempertahankan budaya, khususnya lokal Madura.

“Acara ini untuk mengembalikan kecintaan kita kepada budaya Madura, mengingat budaya lokal hari ini semakin terkikis oleh zaman,” ungkapnya.

Dalam acara tersebut, D. Zawawi Imron saat menyampaikan orasi kebudayaan mengatakan, Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. “Tahun 1960, Indonesia kedatangan salah satu rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Mahmud Syaltut. Ia takjub kepada Indonesia. Ia berucap kepada Soekarno: ‘Indonesia id’atun minal jannah nuqilat ilal ardh’ (Indonesia potongan surga yang diturunkan oleh Allah ke bumi),” tutur penyair asal Batang-Batang Sumenep tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Sujiwo Tejo lebih mengajak agar masyarajat Madura menjaga dan melestarikan budaya setempat.

“Aku walaupun hidup di Jakarta, nyanyinya tidak ala Agnes Monica, aku tetap nyanyi aku yang ada dalam diriku,” ujar seniman berjuluk Presiden Jancukers itu.

Dalam pidatonya, Muhammad Hasan menuturkan, pihaknya akan mendukung penuh program mahasiswa yang dinilai sesuai dengan misi kampusnya.

“Terimakasih kepada Fataria yang telah mendatangkan tokoh budaya yang sangat inspiratif ini. Selanjutnya pimpinan akan tetap mendorong kegiatan mahasiswa, asalkan mempunyai ruh ke-Islam-an sesuai dengan misi kita, religius, kompeten, dan kompetetif,” tuturnya.


Reporter: Syarofi
Editor: Ahnu