NEWS

PCNU Sesalkan Fenomena Pelajar Berhijab Anti Tahlilan

PAMEKASAN — Di Kabupaten Pamekasan, terdapat fenomena pelajar SMA berhijab tapi tidak mau tahlilan, maulidan, dan tradisi-tradisi keislaman diabaikan.

“Tentu itu patut disesalkan,” tegas Ketua PCNU Pamekasan, KH Taufik Hasyim, saat sambutan dalam Halal Bihalal PCNU bersama Lembaga, Banom, dan MWCNU di Aula Lantai II PCNU Pamekasan, Selasa (25/6).

Menurut Pengasuh Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom Pamekasan itu, fenomena tersebut sangat bahaya. Bukan faktor hijabnya, tapi lebih pada paham yang anti ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

“Itu tantangan bagi kita. Karenanya, Lembaga dan Banom NU harus terus semangat. Tidak boleh tidur. Lembaga adalah eksekutor PCNU,” tegas Kiai Taufik.

Pihaknya menekankan agar lembaga dan Banom PCNU Pamekasan kian aktif. Ada Lembaga yang kencang larinya, ada yang tidur tapi mudah dibanguni, dan ada pula yang nyenyak.

“Periode kepengurusan yang bersisa 2 tahunan, marilah lembaga yang masih tidur, marilah kita bangun, bangkit untuk syiar-syiar Aswaja di Kabupaten Pamekasan,” ujarnya.

Pengurus lembaga PCNU di Kabupaten Pamekasan, tambahnya, sangat lengkap. Tinggal memilah dan menggerakkan.

“Wilayah-wilayah yang belum tersentuh, mesti dijamah dengan program ke-NU-an. Punya banyak potensi untuk melaksanakan program yang luar biasa,” urainya.

Di samping itu, banyak pelajar atau santri non-NU minta rekom ke NU untuk kuliah gratis ke luar negeri atau Jakarta.

“Ini fenomena. Ada santri dari pesantren non-NU minta rekomendasi untuk beasiswa ke luar negeri, ke Ummul Qoru. Kita kasih, lulus. Tapi, justru sekarang nyinyir terhadap NU. Dia dari Palengaan, Pamekasan,” ungkapnya.

Karenanya, tegas Kiai Taufik, setiap ada yang minta rekomendasi, maka harus ada rekomendasi dari MWCNU dan komitmen siap mengabdi ke NU.

Kiai Taufik juga menyesalkan banyaknya ustaz yang tampil di televisi dan youtube mulai mengikis peran kiai. Diterangkan, cukup miris di youtube ada ustaz yang menjawab puluhan masalah dalam sekejap.

“Padahal, Imam Malik yang alim saat didatangi ulama Maroko tidak lantas menjawab puluhan pertanyaan yang disodorkan. Hanya 4 pertanyaan yang dijawab,” urainya.

Di NU saja, satu masalah dibahtsul-masailkan dengan penuh kehati-hatian. Tapi ustaz-ustaz yang muncul di televisi dan youtube dengan penuh mudah mengharamkan dan menyesatkan.

Dalam acara tersebut, Kiai Taufik mengetengahkan penjelasan halal bihalal yang Bahasa Arab yang diindonesiakan. Secara tertib nahwu, tidak jelas arahnya.

“Tapi yang terpenting adalah muatan di dalamnya yang menguatkan maaf-memaafkan,” paparnya.

Setelah halal-bihalal, ketua atau perwakilan MWCNU, lembaga, banom, lajnah, dibrifing berkaitan dengan anggaran dan realisasi program kerja.


Reporter: Anam
Editor: Ahnu