PAMEKASAN – Dakwah merupakan ruh agama Islam. Menjadi seorang dai berarti menjadi penerus Rasulullah dalam menjaga kelestarian dan menyebarkan agama Islam. Maka dari itu, seorang dai dituntut untuk menyampaikan pesan dakwahnya dengan penuh hikmah dan tidak menyinggung perasaan mad’u (objek dakwah) sekalipun termasuk ahli maksiat.
Pernyataan ini senada dengan penyampaian pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pamekasan, KH. Musleh Adnan, saat memberikan ceramah agama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad di kediaman H. Fauzi, Palengaan Daja, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (28/11/2017).
Kiai kelahiran Jember ini menceritakan bahwa dirinya pernah mendapatkan undangan untuk berceramah, dan secara kebetulan penyelenggara juga mengundang almarhum KH. Abdul Mannan Fadholi, Rais Syuriah PCNU Pamekasan periode 2016-2021. Di sekitar acara itu ditengarai ada tempat maksiat.
Setelah sampai giliran Kiai Musleh berceramah, sebelum ia naik panggung, Kiai Mannan berbisik kepada alumni PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini dan memintanya supaya tidak membahas hal-hal yang berkenaan dengan tempat maksiat tersebut.
“Sampean bahas tentang Islam kaffah saja. Kita doakan saja (orang-orang ditempat maksiat. Red.) mendapatkan hidayah. Bisa saja nanti ketika mereka mendaptkan hidayah, (mereka. Red.) lebih baik dari kita,” tutur Kiai yang lahir 42 tahun silam ini dalam bahasa Madura, menirukan pesan Kiai Mannan.
Reporter: Ahnu
Editor: Hassan Al-Mandury
