NEWS

Rais ‘Aam PBNU, NU adalah Miniatur Islam

PAMEKASAN — Setiap hal yang diperintahkan oleh Islam, diperintahkan juga oleh NU. Begitu juga hal yang dilarang agama, NU pun melarangnya. Oleh karena itu, NU bisa disebut sebagai miniatur Islam. Hal ini disampaikan oleh Rais ‘Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, saat berceramah pada kegiatan pengajian akbar peringatan HSN 2021 dan pelantikan PCNU Pamekasan, Sabtu malam (16/10/2021), di Pondok Pesantren (PP) Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan.

Lebih lanjut, PP Miftahus Sunnah Surabaya ini menyampaikan, di luar negeri NU dikenal sebagai organisasi yang khariq al-‘adah atau organisasi dengan keistimewaan yang tidak dimiliki organisasi lainnya. Di Indonesia, istilah kharriq al-‘adah lebih dikenal dengan istilah keramat, dan kekeramatan ini dimiliki oleh orang-orang wali.

“Memang betul, Nahdlatul Ulama SK-nya adalah SK para auliya’. Sejak Syekh Nawawi al-Bantani yang memberi isyarat kepada Syaikhana Cholil al-Bankalani, lalu Syaikhana Cholil memberikan isyarat sekaligus perintah melalui tiga isyarat ke Mbah Hasyim Asy’ari agar melahirkan organisasi yang diharapkan meniru atau serupa dengan tongkat saktinya Nabi Allah Musa AS,” jelas Kiai Miftah.

Maka, lanjut Kiai Miftah, isyarat yang dikirimkan oleh Syaikhana Cholil antara lain: surat Thaha ayat 17-23, tongkat dan seutas tasbih. Diharapkan, NU bisa mengamalkan dan memformulasikan isyarat-isyarat yang diterima oleh Rais Akbar NU, Hadlrat al-Syaykh Muhammad Hasyim Asy’ari tersebut.

Kiai Miftah melanjutkan, isyarat tongkat ini mengandung berbagai makna: tanggung jawab dan amanah besar ynag harus ditunjukkan dan dibuktikan oleh NU, organisasi yang diisyaratkan agar segera didirikan.

“Sampean tahu tongkat? Orang dengan tongkatnya akan menambah wibawa. Menimbulkan sebuah wibawa dan kehormatan, di samping untuk berpegang, bersandar, menambah kekuatan. Tapi, di sisi lain tongkat itu punya makna komando. Maka sekarang di kepimpinan militer, kepolisian masih berlaku seorang panglima, seorang kepala staf ini pegang tongkat, karena tongkat itu lambang daripada komando,” jelas Kiai Miftah.

“Artinya apa? Artinya Nahdlatul Ulama itu harus bisa dikomando dan dalam satu komando. Komandonya di Nahdlatul Ulama adalah Syuriah diperkuat oleh Mustasyar. Maka saatnya sekarang ini Syuriah harus diberdayakan. Karena apa? Karena pemegang komando adalah Syuriah, dan Syuriah harus paham AD/ART,” imbuhnya.


Reporter: Ahnu
Editor: Redaktur