NEWS

Rais PCNU Pamekasan Minta Nahdliyin Waspadai Eks HTI

PAMEKASAN — Meski secara konstitusional Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan pemerintah, akan tetapi gerakannya di bawah tanah memperjuangkan berdirinya khilafah tetap berjalan. Di antara strategi mereka ialah menggunakan nama lain yang terkesan tidak memiliki hubungan dengan HTI. Hal ini bertujuan menyamarkan identitas asli mereka dan mengelabui masyarakat.

Kondisi ini juga terjadi di Pamekasan. Kamis (07/03/2019) lalu, sebuah kelompok menggelar kajian keagamaan di salah satu kafe di Jl. Kemayoran Pamekasan. Melihat pamflet publikasi kelompok yang menggunakan diksi “Islam Madura” di belakang namanya ini, ditengarai pembahasan kajian tersebut mengarah pada upaya penegakan khilafah.

“Kelompok kajian eks HTI terbaru. Hati-hati penyebar ajaran khilafah yang sementara bergerak dibawah tanah, karena organisasinya dibubarkan, dan akan bangkit lagi setelah 17 April 2019,” kata Rais Syuriah PCNU Pamekasan, KH. Afifuddin Thoha, saat mengunggah pamflet publikasi kelompok tersebut di grup WA pengurus Lembaga dan Badan Otonom PCNU Pamekasan, Selasa (26/03/2019).

Kiai Afif berharap, para masyaikh dan tokoh NU dapat menahan gelombang besar agenda kelompok tersebut, guna mengantisipasi terjadinya ‘kemungkinan terburuk’.

Tidak hanya itu, penggunaan diksi “Islam Madura” juga disoroti oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Kadur ini. Karena menurutnya, selama ini HTI bersama afikiannya menyalahkan istilah “Islam Nusantara” yang sering dikampanyekan NU.

“Mereka bukan tidak faham maksud sebenarnya dari istilah itu, kiai yang sebenarnya sangat tidak kontroversial. Yang mereka inginkan sebenarnya: menyerang NU, sehingga timbul stigma terhadap NU, dan itu merata ditengah masyarakat, sampai dikalangan Nahdliyyin sekalipun, dan itu sudah menampakkan hasilnya,” jelasnya.

Menurut Kiai Afif, propaganda dalam membangun stigma NU melalui “Islam Nusantara” juga terjadi di Pamekasan. Hal ini, lanjut Kiai Afif, merupakan hasil jerih payah mereka sejak 4-5 tahun yang lalu, yang dengan agresif menyerang dan memfitnah NU dan tokoh-tokoh kuncinya, sehingga warha Nahdliyyin di kabupaten ini banyak terperangah dan kelimpungan menyikapi kondisi tersebut.

“Kulminasinya: diakuinya ‘bendera’ mereka sebagai ‘bendera bersama milik umat’, sehingga semakin memperkuat posisi mereka di tengah umat, dan menemukan momentumnya pada Pilpres ini. Jadilah NU sebagai ‘musuh bersama’ umat, dan terbentuklah kolaborasi besar dari umat, yang siap menghadang NU. Apa yang terjadi dengan kita? Dan Bangsa ini tentunya,” pungkasnya.


Reporter: Abror
Editor: Ahnu