NEWS

Sebelum Terjadi, Mbah Hasyim Tahu Khilafah Akan Runtuh


Perkiraan Mbah Hasyim terbukti. Tahun 1924, Khilafah Turki Utsmani runtuh akibat sekularisme yang diusung Mustafa Kemal Ataturk. Kemudian ia mendeklarasikan berdirinya Republik Turki Modern Nasionalis-Sekuler. Pasca deklarasi ini, Mustafa Kemal membubarkan Muzarat al-Awqaf wa al-Haj (Kementerian Haki dan Waqaf).

“Tidak ada urusan negara dengan agama atau dengan haji dan waqaf. Nggak ada urusan. Nama tidak boleh kearab-araban: Muhammad nggak boleh, (yang boleh. Red.) Mehmed; Ayyub nggak boleh, (yang boleh. Red.) Eyüp; Rajab Thayyib nggak boleh, (yang boleh. Red.) Recep Tayyip; Khadijah nggak boleh, (yang boleh. Red.) Hatice,” jelas alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur tersebut.

Tidak hanya itu, Kiai Said melanjutkan, azan di beberapa masjid menggunakan bahasa Turki. Lebih lanjut, pemerintahan sekuler Turki waktu itu juga melarang penggunaan sound system, simbol-simbol khalifah, mengenakan kopiah putih atau gamis hanya diperbolehkan di dalam masjid. Keluar masjid, pakaian tersebut harus dilepaskan. Jika ada yang tidak mematuhi peraturan yang dikeluarkan Mustafa Kemal ini, maka ia akan dibunuh.

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1925, ulama-ulama dunia berkumpul di Universitas Al-Azhar guna membahas cara membangkitkan kembali kekhalifahan yang runtuh. Dua hari dua malam para ulama tersebut bermusyawarah, tapi tidak menemukan keputusan.

“Apa kriteria seseorang menjadi khilafah? Kalau sudah ada kriterianya, cara memilihnya seperti apa? Kalau udah terpilih, yang akan mengesahkan siapa? Kalau sudah ada yang mengesahkan, ibu kotanya di mana? ‘Ya, di Mesir.’ ‘Wah, ini berarti memindahkan ibu kota dari selat Bosphorus ke Sungai Nil,’ ada yang jawab gitu. Walhasil, dua hari dua malam, ittafaqu ‘ala an la yattafiqu, mereka ulama bersepakat untuk tidak sepakat,” kata Kiai Said.


Reporter: Ahnu
Editor: Wiyono
Foto:
Al-Tsaqafah