JAKARTA – Wacana sekolah 8 jam selama lima hari atau Full Day School (FDS) dinilai tidak hanya menghambat kegiatan Madrasah Diniyah, tapi juga anak-anak yang tidak bersekolah Diniyah.
Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. DR. Helmy Faishal Zaini, dalam sebuah video dokumentasi Permadi Heddy Setya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ustad Abu Janda saat sowan ke PBNU, Rabu (12/07/2017).
“Full Day School itu kan dari 6 hari menjadi 5 hari. Artinya, setiap harinya ditambah jamnya: dari 5 jam ditambah (menjadi) 8 jam. Jadi anak-anak sekolah pulang sekolah jam 4, jam 5,” papar mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Indonesia era Susilo Bambang Yudhoyono itu.
Otomatis, menurut Kiai yang lahir 1 Agustus 1972 itu, FDS tidak hanya menghambat kegiatan belajar-mengajar Madrasah Diniyah, tapi juga anak-anak yang tidak mengikuti belajar agama di Madrasah Diniyah.
“Anak-anak yang suka ngarit rumput, yang bantu orang tuanya jualan. Nah, itu kehilangan (kesempatan). Padahal tokoh-tokoh besar yang sekarang jadi pemimpin itu adalah tokoh-tokoh yang dilahirkan mereka pulang sekolah membantu orang tuanya di rumah,” tutur Kiai yang hobi fotografi ini.
Jadi, lanjut suami Santi Anisa ini, penolakan wacana FDS bukan untuk kepentingan NU semata, tapi juga untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia terutama masyarakat miskin yang pekerjaannya terbantu oleh anaknya setiap pulang sekolah.
Selain itu, penolakan terhadap FDS yang gencar dilakukan oleh NU juga bertujuan untuk membentuk karakter anak-anak usia sekolah di negeri ini.
“Sekarang ini kalau kita lihat, coba, data dari PEW Research Center: 4 persen terpapar gerakan ISIS, mendukung gerakan ISIS. Ini urban lho. Nah, tapi di kampung-kampung yang mereka ikut Madrasah Diniyah tidak terpapar (gerakan ISIS. Red.),” imbuh alumni Universitas Darul Ulum Jombang tersebut.
Reporter: Abror
Editor: Ahnu
