PAMEKASAN – Ketua Bidang Dakwah Aswaja NU Center (Asnuter) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan, Ustaz Abdul Majid, mengajak agar para santri merasa bangga dengan status kesantriannya. Pasalnya, menurut Ustaz Majid, santri memiliki keunggulan mental, kedalaman spiritual, dan peran penting sebagai pelestari nilai.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Aswaja Goes to School, Senin malam (19/10/2026) di halaman Pondok Pesantren Miftahul Hidayah, Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan.
Ustaz Majid menyampaikan tugas santri tidak cukup hanya mendalami turas atau kitab kuning saja. Karena tantangan ke depan semakin kompleks, santri harus menguasai banyak hal, harus memiliki pemikiran yang maju, memiliki relasi, ketangguhan diri, untuk menghadapi segala tantangan yang akan di hadapi.
“Tentu cukup banyak, diantaranya gelombang disrupsi digital, kemajuan dan perubahan yang sangat cepat, dekadensi moral yang semakin tidak menentu, gerakan masif dari paham di luar Ahlussunah wal Jamaah, ini semua tantangan riil yang mesti kita hadapi dan kita antisipasi sejak dini,” ucapnya.
Baca juga: Tanamkan Pemahaman Keagamaan di Akar Rumput, Asnuter Pamekasan Gelar Aswaja Goes to School
Kondisi ini, menurut Ustaz Majid, menuntut santri agar memperkuat literasi, keilmuan, wawasan, serta kesadaran pendidikan moral dan spritual.
Ia juga menegaskan, pesantren memiliki paradigma dan landasan pemikiran yang berpegang pada prinsip “Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah” (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
Menurutnya, menjaga tradisi tidak hanya berarti mempertahankan nilai yang diajarkan oleh guru, seperti akhlak, moral, etika, dan keteladanan para masyayikh pesantren, tetapi juga memahami pentingnya pembaruan yang membawa kemaslahatan.
“Al-muhafazhatu itu selesai dengan kita menjaga saja, tapi kita punya tugas untuk membuat hal baru, namanya itu al-ijad, kemudian pembaharuan harus ada transformasi. Itu tugas seorang santri,” paparnya.
“Seperti misal, santri dan pesantren dituntut melahirkan gagasan-gagasan baru dan hal-hal baru, misal metode baca kitab cepat, dakwah digital edukatif, sistem atau pola kebersihan dan lain-lain, yang pada intinya, al-ijad itu adalah kemampuan menciptakan dan menemukan, tidak sekedar memiliki kemapuan dalam melestarikan, menjaga dan mencontoh yang ada,” lanjutnya.
Ia menegaskan secara bahasa, al-ijad berkaitan dengan tindakan mewujudkan atau menghadirkan sesuatu. Dalam konteks pengembangan diri santri, kata Ustaz Majid, istilah ini dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan melahirkan gagasan, metode, karya, atau solusi yang sebelumnya belum tersedia di lingkungan sendiri.
Kontributor: Siska Amelia (MNU-X.10.019)
Editor: Redaktur

