Opini

Membumikan NUconomic: Jihad Tiga Pilar Nusantara Menuju Rahmatan Lil Alamin


Oleh: Prof. Dr. H. Rudy Haryanto, MM*


Peta jalan menuju Indonesia Emas 2045 kerap kali dihadapkan pada satu tantangan struktural yang belum sepenuhnya tuntas: ketimpangan ekonomi. Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang tampak stabil di kisaran 5 persen, realitas di tingkat akar rumput (grassroots) sering kali menyuguhkan narasi yang berbeda. Menengok kondisi sosial-ekonomi di daerah salah satu contohnya di Kabupaten Pamekasan, Pulau Madura, kita disuguhkan pada potret kontradiktif yang jamak terjadi di berbagai wilayah pelosok Nusantara.

Pamekasan memiliki potensi sektor pertanian (khususnya tembakau, jagung, dan garam) serta sektor kelautan yang melimpah. Namun, daerah ini masih bergelut dengan persoalan kemiskinan ekstrem yang fluktuatif, rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP), minimnya penyerapan tenaga kerja formal, dan keterbatasan akses modal bagi pelaku usaha mikro. Kondisi Pamekasan adalah cermin makro dari mayoritas kantong-kantong warga Nahdliyin di Indonesia. Umat Islam, yang merupakan mayoritas penduduk, justru sering kali menjadi mayoritas dalam statistik kerentanan ekonomi.

Di sinilah urgensi transformasi gerakan transformatif muncul. Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh lagi hanya berdiri sebagai penjaga moral dan keagamaan (himayatuddin), tetapi harus mengonversi basis massanya yang masif menjadi kekuatan ekonomi riil (himayatal ummah). Guna menjawab tantangan zaman inilah, sebuah paradigma baru bernama NUconomic diarsiteki dan digaungkan.

Dekonstruksi NUconomic: Manifestasi Mabadi Khaira Ummah
Apa sebenarnya NUconomic itu? Secara konseptual, NUconomic bukan sekadar aktivitas berbisnis warga NU, melainkan sebuah ekosistem ekonomi universal yang berakar pada nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama. Ia merupakan pengejawantahan modern dari gerakan Mabadi Khaira Ummah (prinsip-prinsip pembentukan umat terbaik) yang bertumpu pada lima pilar etis: as-sidqu (kejujuran/integritas), al-amanah (kepercayaan/akuntabilitas), al-‘adalah (keadilan), al-wafa bil-ahdi (komitmen/konsistensi), dan at-ta’awun (gotong royong/kolaborasi).

NUconomic menolak sistem kapitalisme murni yang menumpuk kekayaan pada segelintir elite, namun juga tidak terjebak pada utopia sosialisme. Ia adalah jalan tengah (tawasuth) ekonomi: sebuah model ekonomi berbasis kerakyatan, kemandirian, dan kedaulatan jaring sosial, di mana pasar bergerak dengan etika religius dan asas keadilan distributif. NUconomic memosisikan modal bukan sebagai penguasa manusia, melainkan alat untuk memerdekakan manusia dari jerat kemiskinan.

Urgensi Tiga Pilar Gerakan Ekonomi Umat
Gerakan NUconomic bukanlah proyek mercusuar yang elitis, melainkan sebuah gerakan kultural dan struktural yang harus dijangkar pada realitas ekonomi warga. Untuk merealisasikannya di bumi Nusantara, diperlukan pembumian Tiga Pilar Gerakan Ekonomi yang saling mengunci: Pendampingan UMKM; Hilirisasi sektor agromaritim/peternakan; dan Optimalisasi filantropi Islam.

Tiga pilar ini laksana tripod penopang yang akan mengubah wajah ekonomi umat dari sekadar konsumen pasif menjadi produsen dan aktor utama dalam rantai pasok ekonomi nasional. Tanpa adanya cetak biru tiga pilar yang membumi, potensi ekonomi warga Nahdliyin hanya akan menguap sebagai angka statistik tanpa dampak kesejahteraan yang inklusif.

Pilar Pertama: Pendampingan UMKM sebagai Jangkar Ekonomi Lokal
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah urat nadi perekonomian di daerah seperti Pamekasan. Ratusan produk domestik, mulai dari batik corak Madura hingga industri makanan olahan khas, digerakkan oleh jemari warga lokal. Sayangnya, mayoritas dari mereka masih terjebak dalam fase survival (sekadar bertahan hidup), bukan growth (bertumbuh). Kendala klasik seperti standardisasi produk, sertifikasi halal, literasi digital, hingga akses pasar modern menjadi tembok besar.

Gerakan NUconomic menuntut hadirnya pendampingan UMKM secara terstruktur dan berkelanjutan (end-to-end). NU melalui perangkat lembaganya harus berfungsi sebagai inkubator bisnis yang nyata. Pendampingan tidak boleh berhenti pada seremonial pelatihan, melainkan masuk ke ranah fasilitasi legalitas usaha, pendampingan sertifikasi halal gratis (self-declare), digitalisasi pemasaran melalui ekosistem lokapasar (marketplace) inklusif, hingga membuka akses pembiayaan yang ramah dan bebas dari jeratan rentenir. Ketika UMKM naik kelas, ekonomi domestik di tingkat daerah akan bergerak lebih resilien terhadap guncangan global.

Pilar Kedua: Hilirisasi Agromaritim dan Peternakan Berbasis Komunitas
Pilar kedua menyasar akar rumput terbesar di daerah pedesaan: petani, nelayan, dan peternak. Di Pamekasan dan banyak wilayah Indonesia lainnya, ironi kemiskinan justru kerap melanda mereka yang memberi makan bangsa ini. Petani tembakau dan jagung kerap dipermainkan tengkulak saat panen raya, sementara nelayan tradisional kalah bersaing dalam teknologi penyimpanan pascapenanen.

Jawabannya adalah hilirisasi industri skala komunitas. Sesuai arahan ekonomi nasional, hilirisasi tidak boleh hanya milik korporasi tambang besar, melainkan harus dibawa ke sektor agraria dan maritim masyarakat. Di sektor pertanian, NUconomic mendorong pembangunan koperasi pertanian yang mampu mengolah hasil mentah, seperti jagung menjadi pakan ternak atau pangan olahan bernilai tinggi. Di sektor kelautan, penyediaan fasilitas cold storage berbasis komunitas akan memutus rantai tengkulak jahat.

Sementara di sektor peternakan, hilirisasi diwujudkan lewat pengolahan daging terintegrasi dan manajemen pupuk organik. Melalui sentuhan teknologi tepat guna dan manajemen koperasi yang modern, nilai tambah (value added) dari komoditas ini akan dinikmati langsung oleh produsen pertama yaitu petani dan nelayan itu sendiri, bukan oleh para pemburu rente di lini tengah.

Pilar Ketiga: Pemanfataan Filantropi Islam untuk Pemberdayaan
Pilar ketiga adalah mesin bahan bakar sosial dari NUconomic, yaitu optimalisasi filantropi Islam yang mencakup Zakat, Infak, Sedekah (ZIS), dan Wakaf. Selama ini, pengelolaan ZIS-Wakaf cenderung bersifat karitatif (charity); sekadar membagikan sembako atau santunan konsumtif yang habis dalam sehari.

Dalam arsitektur NUconomic, institusi amil zakat seperti Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) harus secara radikal menggeser paradigmanya ke arah filantropi produktif. Dana zakat dan infak ditransformasikan menjadi modal kerja tanpa bunga (qardhul hasan) bagi UMKM yang belum bankable.

Lebih jauh lagi, potensi wakaf produktif harus mulai dilirik serius. Mengapa tidak memfungsikan tanah-tanah wakaf di daerah menjadi pusat niaga, swalayan komunitas (NU-Mart), atau lahan pertanian terpadu? Hasil dari produktivitas wakaf tersebut kemudian dikembalikan untuk membiayai beasiswa anak-anak petani dan modal usaha warga. Jika instrumen ZIS-Wakaf ini dikelola dengan transparansi tinggi dan tata kelola modern, ia akan menjelma menjadi jaring pengaman sosial-ekonomi yang sangat kokoh sekaligus mandiri, tanpa terus-menerus bergantung pada stimulus fiskal pemerintah.

Umat yang Rahmatan Lil Alamin sebagai Muara Tujuan
Pada akhirnya, muara dari “Jihad Tiga Pilar” dalam gerakan NUconomic ini bukanlah penumpukan kekayaan kapitalistik yang berpusat pada segelintir orang. Tujuan tertingginya adalah mewujudkan tatanan kehidupan umat yang Rahmatan Lil Alamin menjadi rahmat dan pembawa kesejahteraan bagi semesta alam.

Islam tidak menghendaki kemiskinan, sebab kemiskinan struktural yang dibiarkan tanpa pembelaan sering kali mendekatkan manusia pada kekufuran, baik kufur nikmat maupun hilangnya martabat kemanusiaan (karamah insaniyyah). Umat yang Rahmatan Lil Alamin adalah umat yang berdaya secara ekonomi, berdaulat atas pangannya sendiri, berkeadilan sosial, dan mampu mengulurkan tangan untuk membantu sesama.

Membangun ekonomi dari pinggiran, seperti dari bumi Pamekasan, dengan menggerakkan UMKM, menyejahterakan petani-nelayan, dan menghidupkan filantropi adalah manifestasi nyata dari jihad kemanusiaan hari ini. Menyongsong Indonesia Emas tidak bisa lagi sekadar dengan retorika di ruang-ruang seminar. Gerakan NUconomic dengan Tiga Pilar Nusantara-nya adalah jawaban konkret untuk membumikan keadilan ekonomi, meruntuhkan dinding ketimpangan, dan memastikan bahwa berkah kemerdekaan serta pembangunan dapat dirasakan hingga ke dapur-dapur rakyat kecil. Saatnya kita bergerak bersama, membumikan gagasan, demi kejayaan umat dan kedaulatan bangsa.


* Dewan Pakar BUMNU PCNU Kabupaten Pamekasan