Opini

Membaca Arah Besar Strategi PCNU Pamekasan


Oleh: Moh. Wahyudi


Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) sering kali dipahami sebagai forum rutin organisasi untuk menyusun program kerja. Namun, pada hakikatnya, Muskercab adalah ruang di mana sebuah organisasi mendefinisikan masa depannya. Di forum inilah arah gerak, prioritas perjuangan, dan cita-cita besar organisasi dirumuskan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Karena itu, hasil Muskercab PCNU Pamekasan tidak semestinya dibaca hanya sebagai kumpulan program tahunan yang bersifat administratif. Lebih dari itu, ia merupakan rumusan strategis yang memuat orientasi besar pembangunan jam’iyyah dan jemaah Nahdlatul Ulama untuk lima tahun ke depan.

Jika dicermati secara utuh, hasil Muskercab PCNU Pamekasan sesungguhnya menghadirkan sebuah peta jalan strategis yang disusun secara sistematis melalui empat kelompok kerja (Pokja). Masing-masing Pokja memuat bidang garapan yang berbeda, tetapi saling terhubung dalam satu tujuan besar, yaitu memperkuat posisi Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan keagamaan, sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menyiapkan masa depan peradaban Nahdliyin. Karena itu, keseluruhan hasil Muskercab ini perlu dibaca sebagai satu bangunan utuh yang menghubungkan penguatan ideologi Aswaja, pemberdayaan ekonomi, modernisasi organisasi, pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, dan kaderisasi dalam satu kerangka besar pembangunan umat.

Pokja 1: Meneguhkan Aswaja sebagai Fondasi Keagamaan dan Kebangsaan

Pokja pertama menempatkan penguatan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah sebagai fondasi seluruh gerak organisasi. Pilihan ini menunjukkan kesadaran bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada besarnya jumlah warga, tetapi juga pada kokohnya sistem nilai yang menjadi landasan kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan warga Nahdliyin.

Di tengah derasnya arus informasi digital, otoritas keagamaan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ruang publik dipenuhi berbagai narasi keagamaan yang sering kali tercerabut dari tradisi keilmuan yang mapan. Dalam situasi seperti ini, NU dituntut untuk memperkuat kembali posisi Aswaja An-Nahdliyah sebagai paradigma berpikir sekaligus pedoman hidup masyarakat.

Karena itu, berbagai program yang dirumuskan dalam Pokja pertama diarahkan pada penguatan pemahaman keagamaan warga, mulai dari standarisasi materi Aswaja, penyusunan kurikulum ke-Aswaja-an, penguatan Bahtsul Masail, pelaksanaan seminar ke-Aswaja-an dan kebangsaan, hingga pengembangan literasi ke-NU-an melalui penerbitan buku, media digital, dan berbagai sarana edukasi lainnya.

Tidak hanya itu, Pokja ini juga menaruh perhatian besar pada kaderisasi dai dan muballigh muda yang mampu berdakwah secara santun, argumentatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Program Aswaja Go To School, cerdas cermat ke-Aswaja-an, kajian rutin Aswaja, hingga penguatan nilai-nilai Mabadi Khaira Ummah menunjukkan bahwa NU ingin memastikan nilai-nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal tetap hidup di tengah masyarakat.

Lebih jauh, Pokja pertama sesungguhnya sedang membangun ketahanan ideologis warga Nahdliyin. Sebab sejarah menunjukkan bahwa sebuah komunitas tidak akan mampu bertahan hanya dengan kekuatan organisasi. Ia membutuhkan fondasi nilai yang kokoh agar tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman.

Pokja 2: Membangun Kemandirian Jemaah melalui Ekonomi dan Pemberdayaan Sosial

Jika Pokja pertama berfokus pada pembangunan fondasi nilai, maka Pokja kedua bergerak pada wilayah yang lebih konkret, yakni bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Sebab keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari kuatnya pemahaman keagamaan, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup umat.

Pokja kedua menunjukkan kesadaran bahwa mayoritas warga Nahdlatul Ulama berada pada sektor ekonomi rakyat. Mereka adalah petani, nelayan, pedagang kecil, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), buruh, dan pekerja sektor informal yang membutuhkan pendampingan agar mampu berkembang dan berdaya saing.

Karena itu, berbagai program pemberdayaan ekonomi dirumuskan secara cukup komprehensif. Mulai dari bantuan modal usaha mikro, pembentukan kelompok usaha bersama, pengembangan komunitas UMKM, pelatihan kewirausahaan, pendampingan legalitas usaha, hingga penguatan akses pembiayaan melalui lembaga keuangan dan BMT NU Mandiri.

Yang menarik, perhatian tidak hanya diberikan pada sektor perdagangan dan jasa. Potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan usaha pesantren juga memperoleh perhatian serius. Program pendampingan petani dan nelayan, pengembangan ekonomi pesantren, penguatan wakaf produktif, hingga pengelolaan zakat dan filantropi menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi dipahami sebagai pembangunan ekosistem ekonomi umat secara menyeluruh.

Salah satu aspek penting yang juga mendapat perhatian dalam hasil Muskercab adalah penguatan dan pengembangan Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama (BUMNU). Kehadiran BUMNU tidak dapat dipahami sekadar sebagai unit usaha yang berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan sebagai instrumen strategis untuk membangun kemandirian organisasi sekaligus memperkuat kesejahteraan warga Nahdliyin.

Selama ini, salah satu tantangan yang dihadapi banyak organisasi kemasyarakatan adalah ketergantungan terhadap sumber pendanaan eksternal. Akibatnya, ruang gerak organisasi sering kali sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dukungan dari pihak lain. Dalam konteks inilah pengembangan BUMNU menjadi penting, karena ia memungkinkan organisasi memiliki sumber daya ekonomi yang dapat menopang berbagai aktivitas pelayanan, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat secara lebih berkelanjutan.

Karena itu, penguatan BUMNU yang dirumuskan dalam hasil Muskercab harus dipahami sebagai bagian dari agenda besar membangun kemandirian jam’iyyah. BUMNU diharapkan menjadi pusat pengembangan usaha produktif yang mampu mengintegrasikan potensi ekonomi warga, pesantren, lembaga, dan badan otonom NU ke dalam sebuah ekosistem ekonomi yang saling menguatkan.

Apabila dikelola secara profesional, transparan, dan berbasis potensi lokal, BUMNU dapat menjadi motor penggerak lahirnya berbagai unit usaha strategis, mulai dari sektor perdagangan, jasa, pertanian, perikanan, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi digital. Dengan demikian, keberadaan BUMNU tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi NU sebagai organisasi yang mandiri, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

Selain itu, Pokja kedua juga memuat berbagai agenda sosial dan advokasi kemasyarakatan. Pendampingan hukum bagi masyarakat, perlindungan kelompok rentan, penguatan kepedulian sosial, serta pelestarian lingkungan hidup menjadi bagian penting dari ikhtiar NU dalam menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.

Dengan kata lain, Pokja kedua tidak hanya berbicara tentang peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga tentang upaya membangun kemandirian, keadilan sosial, dan keberlanjutan kehidupan bersama.

Pokja 3: Modernisasi Organisasi dan Penguatan Tata Kelola Jam’iyyah

Sebesar apa pun cita-cita organisasi, ia tidak akan terwujud tanpa kelembagaan yang kuat. Kesadaran inilah yang menjadi ruh Pokja ketiga. Di tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks, organisasi modern tidak lagi cukup dikelola melalui kedekatan emosional dan kharisma personal, tetapi harus bertumpu pada sistem, data, profesionalisme, dan tata kelola yang akuntabel.

Pokja ketiga memuat berbagai agenda strategis yang bertujuan memperkuat struktur organisasi mulai dari tingkat cabang, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), ranting, hingga anak ranting. Sebab kekuatan NU sesungguhnya terletak pada jaringan organisasinya yang menjangkau hingga tingkat paling bawah.

Program pendataan warga NU, pengembangan Sistem Informasi Manajemen Nahdlatul Ulama (SIMNU), digitalisasi administrasi, penguatan media NU, pembangunan database organisasi, hingga penguatan sistem pelaporan menjadi langkah penting untuk menghadirkan organisasi yang lebih efektif dan responsif.

Selain itu, hasil Muskercab juga memberikan perhatian pada penataan aset organisasi, pembangunan kantor yang representatif, penguatan fungsi NU Center, evaluasi kelembagaan, supervisi organisasi, serta penguatan budaya kerja berbasis Mabadi Khaira Ummah. Semua ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa organisasi yang besar membutuhkan instrumen manajemen yang modern agar mampu bergerak secara lebih terukur.

Pokja ketiga juga memuat agenda penting berupa penguatan sinergi antara PCNU, MWCNU, ranting, lembaga, badan otonom, dan berbagai unsur organisasi lainnya. Sebab keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas program, tetapi juga oleh kemampuan seluruh perangkat organisasi untuk bergerak dalam satu arah dan satu visi.

Dalam konteks ini, hasil Muskercab menunjukkan bahwa PCNU Pamekasan tidak hanya ingin menjadi organisasi yang besar secara kuantitas, tetapi juga kuat secara kualitas kelembagaan.

Pokja 4: Menyiapkan Generasi Masa Depan Nahdliyin

Pokja keempat dapat disebut sebagai investasi jangka panjang peradaban Nahdliyin. Di dalamnya terkandung agenda besar yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan kaderisasi. Keempat bidang ini merupakan instrumen utama untuk memastikan bahwa NU tidak hanya kuat pada masa kini, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Di bidang pendidikan, berbagai program dirumuskan untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan NU, mulai dari pelatihan teknologi informasi dan kecerdasan buatan, penguatan akreditasi, pengelolaan jurnal ilmiah berbasis Open Journal Systems, digitalisasi pembelajaran, hingga pengembangan pendidikan vokasi bagi masyarakat yang belum memiliki keterampilan dan pendidikan formal yang memadai.

Pokja ini juga menegaskan pentingnya integrasi kurikulum Aswaja dan ke-NU-an dalam seluruh lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan maupun yang berafiliasi dengan NU. Langkah ini menunjukkan komitmen untuk memastikan bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas, tetapi juga memiliki identitas keislaman dan kebangsaan yang kuat.

Lebih jauh lagi, terdapat gagasan besar untuk merintis pendidikan NU satu atap mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Gagasan ini menunjukkan keberanian berpikir jangka panjang dalam membangun ekosistem pendidikan Nahdliyin yang terintegrasi.

Dalam bidang kesehatan, Pokja keempat memuat program penyuluhan kesehatan masyarakat, kampanye hidup sehat, kelas edukasi kesehatan jamaah, gerakan lawan stunting, program pesantren sehat, pengembangan desa sehat NU, serta pendirian Klinik Pratama sebagai cikal bakal Rumah Sakit NU di Kabupaten Pamekasan. Program-program tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dipandang sebagai bagian penting dari khidmah sosial Nahdlatul Ulama.

Pada bidang ekonomi kerakyatan, program penguatan infaq produktif, pendirian BMT NU Mandiri di semua MWCNU yang belum memiliki layanan keuangan warga, pelatihan entrepreneurship, hingga rencana pendirian swalayan NU menunjukkan upaya membangun basis ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Sementara itu, dalam bidang kaderisasi, Pokja keempat menegaskan pentingnya pelaksanaan kaderisasi formal melalui PD-PKPNU dan PMKNU, penguatan kaderisasi badan otonom, kaderisasi ahli falak, kader peneliti, fasilitator, instruktur, tim leader Bahtsul Masail, hingga kader profesional yang mampu berkiprah dalam berbagai sektor kehidupan.

Yang tidak kalah penting adalah agenda distribusi kader ke berbagai ruang strategis agar terjadi mobilitas dan penguatan peran kader NU dalam kehidupan sosial, pendidikan, pemerintahan, ekonomi, dan masyarakat secara luas. Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada proses pelatihan, tetapi berlanjut pada proses pengabdian dan aktualisasi.

Menuju Peradaban Nahdliyin

Jika dicermati secara menyeluruh, hasil Muskercab PCNU Pamekasan sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang apa yang akan dikerjakan dalam satu masa khidmah. Ia merupakan rumusan strategis tentang seperti apa wajah masyarakat Nahdliyin yang ingin diwujudkan pada masa depan.

Melalui Pokja 1, NU memperkuat fondasi nilai dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Melalui Pokja 2, NU membangun kemandirian dan kesejahteraan jemaah melalui pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan UMKM, pengembangan BMT NU Mandiri, filantropi produktif, advokasi sosial, serta penguatan BUMNU sebagai pilar ekonomi organisasi. Melalui Pokja 3, NU memperkokoh kelembagaan dan tata kelola jam’iyyah agar lebih modern, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dan melalui Pokja 4, NU menyiapkan generasi masa depan melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan kaderisasi sebagai fondasi keberlanjutan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Dengan demikian, hasil Muskercab ini layak dibaca sebagai peta jalan besar pembangunan peradaban Nahdliyin di Kabupaten Pamekasan. Sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa Nahdlatul Ulama tetap teguh menjaga warisan para ulama, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman dengan gagasan, program, dan gerakan yang relevan.

Pada akhirnya, tujuan besar yang hendak dicapai bukanlah sekadar terlaksananya berbagai program kerja, melainkan terwujudnya masyarakat yang berilmu, sehat, sejahtera, mandiri, berakhlak, dan berdaya saing. Sebab di situlah hakikat khidmah Nahdlatul Ulama menemukan maknanya yang paling mendalam: menghadirkan kemaslahatan bagi umat, menjaga keutuhan bangsa, dan menyiapkan fondasi bagi lahirnya peradaban yang lebih baik di masa depan.