Bahtsul Masail

Jual-Beli Ijazah Perspektif Fikih*

Pada umumnya seleksi penerimaan dan kenaikan pangkat/golongan seorang pegawai atau karyawan yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta didasarkan pada formalitas ijazah yang dimilikinya. Skill dan kompetensi seringkali diabaikan. Hal ini menjadi pemicu menjamurnya oknum-oknum yang memanfaatkan “jual-beli ijazah” suatu institusi pendidikan yang hanya berorientasi pada bisnis. Bak gayung bersambut, para pencari ijazahpun menyambutnya dengan tangan terbuka, karena dengan modal ijazah mereka dapat memperoleh penghasilan yang cukup besar.

Seperti yang marak kali ini, program sertifikasi guru yang dicetuskan pemerintah sejak tahun 2005 menjadi angin segar bagi guru-guru untuk meningkatkan kompetensinya dan mendapat tambahan pengasilan dari tunjangan profesi yang akan diterima. Namun program tersebut mensyaratkan seorang guru harus berkualifikasi ijazah S1/DIV. Untuk memenuhi syarat tersebut berbagai cara ditempuh oleh guru yang belum berijazah S1/DIV, di antaranya adalah dengan jalan pintas: membayar sejumlah uang jutaan tanpa harus mengikuti proses perkuliahan yang semestinya dan ijazahpun dapat dimiliki tanpa harus bersusah payah.

Bagaimana pandangan fikih terhadapa prakterk jual-beli ijazah?

Ijazah adalah surat tanda tamat belajar dari institusi pendidikan yang mensyaratkan suatu proses belajar-mengajar yang telah diatur dengan persyaratan-persyaratan dan perundang-undangan yang berlaku. Mengeluarkan dan mendapatkan ijazah tanpa melalui prosedur dan ketentuan yang disyaratkan hukumnya haram karena termasuk perbuatan pembohongan dan penghianatan terhadap sistem pendidikan dan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Anfal ayat 27.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Sayid ‘Abd al-Rahman bin Muhammad dalam Bughiyat al-Mustarsyidin mewajibkan setiap umat Islam untuk mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang ditetapkan oleh negara selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Dengan demikian, maka transaksi jual-beli ijazah hukumnya haram, karena menyalahi apa yang telah ditetapkan pemerintah.

)مسألة : ك) : يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه في مصارفه ، وإن كان المأمور به مباحاً أو مكروهاً أو حراماً لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله (م ر) وتردد فيه في التحفة، ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرماً لكن ظاهراً فقط، وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهراً وباطناً وإلا فظاهراً فقط أيضاً، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور، ومعنى قولهم ظاهراً أنه لا يأثم بعدم الامتثال، ومعنى باطناً أنه يأثم اهـ. قلت: وقال ش ق: والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليس بحرام أو مكروه، فالواجب يتأكد، والمندوب يجب، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات

Sebagaimana pernyataan di atas, Abi Al Abbas Ahmad Ibn Muhammad dalam al-Zwajir ‘an Iqitiraf al-Kabair juga menghukumi haram. Status haram ini, karena pembeli ijazah tidak memenuhi syarat menduduki posisi/jabatan/pangkat tersebut. Dengan kata lain, ada perampasan hak orang lain yang lebih layak dan lebih pantas menduduki posisi/jabatan/pangkat itu.

وَفِيهِ نَظَرٌ ، بَلْ الَّذِي يُتَّجَهُ أَنَّهُ حَيْثُ اشْتَدَّ ضَرَرُهُ بِأَنْ لَا يُحْتَمَلَ عَادَةً كَانَ كَبِيرَةً ، بَلْ صَرَّحَ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ بِأَنَّهُ كَبِيرَةٌ وَإِنْ لَمْ يَضُرَّ فَقَالَ : مَنْ كَذَبَ قَصْدًا رُدَّتْ شَهَادَتُهُ وَإِنْ لَمْ يَضُرَّ بِغَيْرِهِ ، لِأَنَّ الْكَذِبَ حَرَامٌ بِكُلِّ حَال –الى ان قال- وَاعْلَمْ أَنَّ الْكَذِبَ قَدْ يُبَاحُ وَقَدْ يَجِبُ ؛ وَالضَّابِطُ كَمَا فِي الْإِحْيَاءِ أَنَّ كُلَّ مَقْصُودٍ مَحْمُودٍ يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ إلَيْهِ بِالصِّدْقِ وَالْكَذِبِ جَمِيعًا فَالْكَذِبُ فِيهِ حَرَامٌ ، وَإِنْ أَمْكَنَ التَّوَصُّلُ بِالْكَذِبِ وَحْدَهُ فَمُبَاحٌ إنْ أُبِيحَ تَحْصِيلُ ذَلِكَ الْمَقْصُودِ وَوَاجِبٌ إنْ وَجَبَ تَحَصُّلُ ذَلِكَ ، كَمَا لَوْ رَأَى مَعْصُومًا اخْتَفَى مِنْ ظَالِمٍ يُرِيدُ قَتْلَهُ أَوْ إيذَاءَهُ فَالْكَذِبُ هُنَا وَاجِبٌ ؛ لِوُجُوبِ عِصْمَةِ دَمِ الْمَعْصُوم –الى ان قال- قَالَ الْغَزَالِيُّ بَعْدَ ذِكْرِهِ ذَلِكَ : وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَابِلَ مَفْسَدَةَ الْكَذِبِ بِالْمَفْسَدَةِ الْمُتَرَتِّبَةِ عَلَى الصِّدْقِ فَإِنْ كَانَتْ مَفْسَدَةُ الصِّدْقِ أَشَدَّ فَلَهُ الْكَذِبُ ، وَإِنْ كَانَ بِالْعَكْسِ أَوْ شَكَّ حَرُمَ الْكَذِبُ ، وَإِنْ تَعَلَّقَ بِنَفْسِهِ اُسْتُحِبَّ أَلَّا يَكْذِبَ وَإِنْ تَعَلَّقَ بِغَيْرِهِ لَمْ تَجُزْ الْمُسَامَحَةُ لِحَقِّ غَيْرِهِ ، وَالْحَزْمُ تَرْكُهُ حَيْثُ أُبِيحَ

Pertanyaan kemudian muncul tentang pemanfaatan ijazah yang diperoleh secara ilegal itu. Menanggapi hal ini, para ulama bersepakat bahwa penggunaan ijazah tersebut hukumnya haram. Sedangkan gaji yang diperoleh dari pemanfaatan ijazah ada beberapa pendapat: jika gaji yang diterima diberikan karena jabatannya seperti aparatur yang diangkat oleh pemerintah, baik berstatus  PNS maupun non PNS, maka gaji/upah tersebut tidak halal (haram). Akan tetapi, jika gaji diperoleh karena pekerjaannya seperti tenaga kerja dari instansi swasta, maka gaji/upah tersebut halal. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam Nihayat al-Muhtaj:

وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ جَعْلِ جَامَكِيَّةٍ عَلَى ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنْ بَابِ الْإِجَارَةِ وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ بَابِ الْإِرْزَاقِ وَالْإِحْسَانِ وَالْمُسَامَحَةِ بِخِلَافِ الْإِجَارَةِ فَإِنَّهَا مِنْ بَابِ الْمُعَاوَضَة

Begitu juga dalam al-Majmu’ (Syarh al-Muhadzdzab):

قال صاحب الذخائر الفرق بين الرزق والاجرة ان الرزق أن يعطيه كفايته هو وعياله والاجرة ما يقع به التراضي اهـ


*Hasil Keputusan Bahtsul Masail NU Pamekasan Bulan September dan Nopember 2015. MWCNU Pakong, Sabtu (Malam Ahad), Tanggal 29 Dzul Qa’dah 1436 H./12 September 2015 M. dan MWCNU Kadur, Sabtu (Malam Ahad), Tanggal 10 Shafar 1437 H. / 21 Nopember 2015 M.