PAMEKASAN – Akhir-akhir ini jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) tidak jarang menjadi sasaran fitnah oleh kelompok tertentu. Berbagai tuduhan diarahkan kepada para pengurus NU seperti: liberal, Syiah, antek Partai Komunis Indonesia (PKI) dan tuduhan miring lainnya.
Hal ini disampaikan oleh KH. Misbahul Munir, Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Palengaan, saat memberikan arahan pada agenda pemekaran Pengurus Ranting NU Palengaan Laok, Senin malam (19/10/2020), di Pondok Pesantren Sumber Sari, Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan.
Kiai Misbah menepis fitnah tersebut. Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini mengaku, dirinya lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran dan nilai-nilai NU. Jadi, lanjut Kiai Misbah, tuduhan-tuduhan tersebut tidak mendasar dan salah.
“Saya ini NU. Mulai dari orang tua saya NU. Saya sebelum masuk Islam, sudah NU. Jadi, waktu saya masih dalam kandungan, saya NU. Waktu itu belum baca syahadat. Begitu balig, saya baca syahadat, masuk Islam, tetap NU,” ucap kiai yang juga menjabat sebagai Wakil Rais PCNU Pamekasan ini.
NU, lanjut Kiai Misbah, tidak mungkin menjadi antek PKI. Pasalanya, melalui Barisan Ansor Serbaguna (Banser), NU berada di garda depan melawan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI. Oleh karena itu, Kiai Misbah meminta kepada PRNU Palengaan Laok agar bisa memberikan penjelasan, khususnya kepada para pemuda yang masih belum paham sejarah.
“NU ini mau dikerdilkan. Salah satu agenda internasional, NU ini mau dikerdilkan. Kenapa? Karena jika masih ada NU, Indonesia akan tetap besar. Jika masih ada NU, Indonesia tidak akan mudah dipecah belah. Nah, kalau NU sudah kerdil, NU sudah tidak ada taringnya, gampang untuk memecah belah Indonesia ini. Tapi kalau NU dan Muhammadiyah masih kuat, untuk memecah belah Indonesia ini sulit,” lanjutnya.
Reporter: Aboonk
Editor: Ahnu

