(In Memoriam KH. Syafruddin Syarif)
Dalam sebuah kegiatan Turba PWNU Jatim ke PCNU se-Madura yang dipusatkan di MWCNU Gapura 30 Mei 2021 lalu, Almarhum KH. Syafruddin Syarif yang merupakan Katib Syuriah PWNU Jatim hadir dan memberikan taujihat terkait “Panca Harakah” NU, yang isinya membuat saya –mungkin juga semua hadirin- semakin yakin akan kehebatan NU.
“Panca harakah” NU (Lima Gerakan NU) meliputi Kaderisasi, Literasi Dakwah, Pendidikan, Fasilitas Kesehatan dan Ekonomi. “Panca Harakah” NU ini menjadi penting untuk dipahami dan dilaksanakan karena itu diyakini menjadi pilar pergerakan perjuangan Jam’iyah di masa kini dan akan datang.
Pertama Kaderisasi: keberlanjutan organisasi sangat ditentukan oleh seberapa besar kegiatan kaderisasi di tubuh organisasi tersebut, termasuk di NU, maka beliau menyebut bahwa kaderisasi menjadi gerakan utama yang harus dilakukan untuk memastikan organisasi tetap eksis dan berjalan sesuai visi yang sudah dibangun oleh para muassis atau pendirinya.
Kedua Literasi dakwah: gerakan perjuangan NU tidak bias lepas dari kegiatan dakwah, maka harus selalu lahir juru dakwah yang bisa mentransformasikan misi Islam dan pengetahuan kepada umat dengan cara yang ramah. Literasi dakwah ini harus mengintegrasikan pengetahuan (ilmu), pengalaman serta metodologi yang mencerminkan kedamaian, sehingga terumuskan menjadi dakwah yang ramah bukan dakwah yang marah. Selain itu, digitalisasi dakwah juga perlu digalakkan oleh para ulama dan kader NU di semua level, sebagai jawaban atas sikap adaptif jam’iyah akan kemajuan teknologi informasi.
Ketiga Pendidikan: Penguatan SDM NU harus dipacu dari semua lini, salah satunya dari sektor pendidikan, baik formal maupun informal. Maka, kader-kader NU perlu meningkatkan kualitas pendidikannya melalui jalur dan jejaring yang bisa ditempuh sesuai kapasitas masing-masing. Dalam konteks ini, harakah pendidikan juga bisa dimaknai sebagai gerakan membangun ruang pendidikan yang berbasis NU, mulai dari level pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
Keempat Faskes: KH. Syafruddin juga menegaskan pentingnya penyediaan Fasilitas Kesehatan (Faskes) yang berbasis NU, maka satu dari lima gerakan NU menurut beliau adalah perjuangan membangun Faskes NU, baik di tingkat cabang, Wilayah maupun pusat.
Kelima Ekonomi: sebagaimana menjadi mimpi besar NU sejak beberapa waktu terakhir terkait kemandirian ekonomi NU, maka gerakan kelima NU adalah penguatan ekonomi Jam’iyah dan Jemaah. Ini bisa dilakukan dengan berbagai model dan pendekatan, seperti pendirian koperasi, BMT, UMKM, dan beragam jenis usaha lainnya, yang semua itu berbasis Jemaah dan kemudian berimplikasi untuk kemandirian jam’iyah.
Paparan (almarhum) ini seakan membuka jalan terang masa depan NU, ada optimisme yang luar biasa bahwa NU di masa masa yang akan datang betul-betul akan menjadi organisasi dambaan umat. Maka, “Panca Harakah” NU sebagaimana telah disebut di atas menjadi kunci untuk diaktualisasikan dalam pergerakan perjuangan NU.
Sebagai tambahan, sebelum beliau mengakhiri taujihat-nya, beliau sempat mengisahkan dawuh Habib Lutfi. Dalam kisahnya beliau menyampaikan bahwa Habib Lutfi berdoa kepada Allah, ingin berhenti ngurus NU, atau ingin berhenti jadi pengurus karena usia sudah 70 tahun, namun beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah: “jangan tinggalkan NU, dampingi NU, terus sampean di Nahdlatul Ulama, itulah ijtihad kamu, thariqat kamu, supaya kamu terus di Nahdlatul Ulama”.
“Ini sekelas Habib Lutfi –kata KH. Syafruddin-, apalagi kita yang banyak dosanya, maka beruntunglah kita ada di Nahdlatul Ulama, semoga sampai mati tetap di Nahdlatul Ulama dan diakui sebagai santrinya Hadaratus Sykeh KH. Hasyim Asy’ari”.
AHMAD WIYONO
(Ketua Lakpesdam NU Pamekasan)

