PAMEKASAN – KH. Hamid Amjad Djauhari menyebut Bhitoah Aghung sebagai salah satu upaya Lembaga Dakwah (LD) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan dalam mengembangkan dakwah berbasis budaya Madura.
Pernyataan itu, disampaikan Gus Hamid, sapaan akrab KH. Hamid Amjad Djauhari, saat ditemuai Media NU Pamekasan seusai acara Bhitoah Aghung, Jumat malam (23/10)2026) di Pendopo Agung Ronggosukowati Pamekasan.
“Salah satunya mengangkat tradisi dan budaya Madura, yaitu, dari dulu orang Madura ini sangat identik dengan tengkan (akhlak: Madura, Red). Nah, akhlaknya orang Madura ini dengan nasehat. Bhitoah ini adalah nasehat-nasehat baik, nasehat-nasehat agung yang disampaikan oleh sesepuhnya,” tuturnya.
Menurutnya, Bhitoah Aghung menghadirkan dakwah sederhana, dengan para kiai duduk sejajar bersama masyarakat tanpa panggung, sekaligus menjaga kelestarian budaya Madura.
“Jadi para kiai itu duduk rata, sama rata dengan masyarakat. Terus menyampaikannya itu bukan dengan panggung, tapi di depan toko itu. Jadi yang menyaksikan itu masyarakat, dan mungkin cara ini budaya Madura terjaga,” ujarnya.
Di akhir paparannya ia mengatakan, generasi muda boleh mengikuti perkembangan zaman, namun harus tetap menjaga akhlak mulia sebagaimana yang diajarkan sesepuh terdahulu.
“Karena anak-anak sekarang, modern boleh modern, tapi akhlak harus klasik, seperti yang diajarkan oleh para sesepuh di zaman dahulu. Kita berkembang dalam sains, tapi bukan berarti kita menyampingkan akhlak-akhlak baik,” pungkasnya.
Reporter: Zainur
Editor: Ahnu

