NEWS

Halaqah Pesantren II, Kiai Taufik Sampaikan Dua Pesan Kepada RMI-NU Pamekasan

PAMEKASAN – Sebagai upaya mempersiapkan diri sejak dini menghadapi tantangan pesantren di abad kedua Nahdlatul Ulama, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan menggelar Halaqoh Pondok Pesantren II, Ahad (21/05/2023), di PT. Bawang Mas Grup, Blumbungan, Larangan Pamekasan.

Pada kesempatan itu, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan, menyampaikan dua pesan yang harus dijaga oleh RMI.

“Di kalangan pesantren ada kaidah yang sangat terkenal: ‘al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah’, melestarikan segala kebaikan yang ditinggalkan para pendahulu, dan menerima perubahan yang lebih baik,” papar kandidat doktor pendidikan Islam ini.


Baca juga: Persiapkan Diri Sejak Dini Hadapi Tantangan, RMI-NU Pamekasan Gelar Halaqoh Pesantren II


Mengutip kitab “Alfiyah Ibn Malik”, Kiai Taufik menjelaskan, santri harus seperti dlamir (kata ganti) “Na”. Dalam gramatika Bahasa Arab, dlamir “Na” tetap dibaca apa adanya, tanpa ada perubahan bentuk meskipun dalam keadaan rafa’, nashab ataupun jar, sebagaimana salah satu bait dalam kitab tersebut:

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّنَا صَلَحْ # كَأَعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْـمِنَحْ

“Makna filosofis bait ini ialah, santri harus tetap menjaga identitas dirinya sebagai santri apapun jabatannya. Jadi dokter, jadi pejabat pemerintah, apa pun jabatannya, santri tetaplah santri,” tegas Rektor Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAI-MU) Pamekasan itu.

Meski demikian, lanjut Kiai Taufik, santri, dalam hal ini RMI, tidak harus bersifat eksklusif. Santri juga harus terbuka terhadap segala perubahan selama tidak bertentangan dengan kaidah tersebut.

“Santri juga harus menerima pembaruan yang baik, sehingga santri tidak ketinggalan zaman,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan itu.

Selain itu, pesan Kiai Taufik, di masa-masa mendatang RMI PCNU Pamekasan tidak hanya memfokuskan program kerjanya pada sektor keagamaan saja, tapi juga merambah sektor ekonomi.

“Kenapa RMI tidak bekerja sama dengan LPNU (Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama, Red) untuk menggarap bidang ekonomi? Misalnya, santri putri setiap pulang libur pasti haid, maka setiap haid pasti butuh pembalut. Kenapa RMI tidak kerja sama dengan LPNU untuk membangun pabrik pembalut? Kalau di Pamekasan ada 6.000 santri putri, pembalut itu sekali pakai, maka setiap santri putri, setidaknya setiap hari satu pembalut ketika haid,” papar Kiai Taufik.


Reporter: Ahnu
Editor: Redaktur