NEWS

Kiai Fahmi Amrullah, NU Harus Fokus Tata Pesantren

PAMEKASAN – Memasuki usianya yang ke dua abad, di antara tugas Nahdlatul Ulama ialah memfokuskan diri menata pesantren agar tidak menimbulkan citra buruk di masyarakat. Kasus asusila dan kekerasan di lembaga pendidikan tertua di Nusantara ini yang dipotret media dan tersebar luas akan mereduksi image di masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh KH. Fahmi Amrullah Hadziq, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang saat menjadi pembicara pada kegiatan “Halaqoh Pondok Pesantren II” bertema “Tantangan Pesantren di Abad Kedua Nahdlatul Ulama” yang digelar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Pamekasan, Ahad (21/05/2023), di Kantor PT. Bawang Mas Grup, Blumbungan, Larangan, Pamekasan.

Sebelum itu, cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy’ari, itu menyampaikan, di antara tantangan pesantren di abad kedua NU ialah besarnya minat masyarakat memasukkan anaknya ke pesantren. Di satu sisi, ada pesantren-pesantren besar yang memiliki ribuan santri, di sisi lain banyak juga pesantren kecil yang sulit berkembang karena beberapa faktor.


Baca juga: Persiapkan Diri Sejak Dini Hadapi Tantangan, RMI-NU Pamekasan Gelar Halaqoh Pesantren II


“Yang kedua, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sangatlah pesat. Bagaimana hal ini bisa memberi manfaat kepada para santri tanpa meninggalkan kultur mereka sebagai santri,” lanjut kiai yang baru dilantik Sabtu (20/05/2023) kemarin.

Tidak hanya itu, hal lain yang menjadi tantangan bagi pesantren ialah banyaknya pesantren yang masih kaku menerapkan sistem dalam memperlakukan santrinya: membatasi akses informasi, bersosialisasi dengan dunia luar pesantren dan mengaktualisasikan bakat sehingga membuat santri jenuh.

“Pesantren seharusnya punya daya tawar mencetak generasi berkualitas yang bermoral dan berkarakter. Apa lagi Indonesia bersiap menghadapi generasi emas di tahun 2024,” tangkas Kiai Fahmi.


Reporter: Ahnu
Editor: Redaktur