PAMEKASAN — Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pamekasan menggelar grand final seleksi Duta Pelajar Nahdlatul Ulama (NU) Pamekasan di Mandhapa Agung Ronggosukowati, Jl. Kabupaten, Pamekasan, Ahad (02/08/2026) malam.
Kegiatan yang diselenggarakan menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) tersebut menjadi tahap akhir rangkaian pemilihan Duta Pelajar NU Pamekasan yang telah berlangsung sejak Mei 2026. Sebanyak enam finalis mengikuti babak grand final.
Ketua PC IPNU Kabupaten Pamekasan, M. Ghufron Hadi, mengatakan pemilihan Duta Pelajar NU dilaksanakan sebelum Konfercab karena peserta terpilih nantinya akan mendampingi ketua cabang pada periode berikutnya. Duta Pelajar NU juga diharapkan menjadi penghubung antarpelajar sekaligus “wajah” organisasi.
“Pemilihan duta dilakukan sebelum konferensi karena nantinya mereka yang akan membersamai ketua cabang selanjutnya, selain pengurus pada jajaran struktural. Karena jika organisasi IPNU-IPPNU adalah sebagai fondasi para pelajar, maka Duta Pelajar NU adalah sebagai jembatannya dan juga sebagai teladan organisasi yang diasah sedemikian rupa untuk meningkatkan kapasitas dirinya, baik tentang keaswajaan ataupun tentang jati dirinya sebagai kader Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.
Ghufron menambahkan, kader IPNU-IPPNU perlu menghadirkan pembaruan dalam organisasi dan tidak sekadar mengandalkan kegiatan pengaderan. Keenam finalis Duta Pelajar NU Pamekasan juga dituntut memiliki kemampuan untuk menghadapi perkembangan zaman.
“Rekan dan rekanita, tidak hanya cukup dengan mengandalkan pengaderan ataupun menunjuk para anggota untuk terlibat dalam keberlangsungan organisasi, kita harus menjadi dan memberi warna baru pada IPNU-IPPNU. Melalui ajang duta bergengsi ini di tingkat pelajar, keenam finalis yang nantinya menjadi utusan PC IPNU-IPPNU [Kabupaten] Pamekasan harus mampu menjawab tantangan zaman,” jelasnya.
Ia juga berharap seluruh kader IPNU-IPPNU di Pamekasan senantiasa melakukan introspeksi serta menjaga kehormatan diri dan organisasi. Menurutnya, tanggung jawab untuk mengamalkan nilai-nilai NU dan Ahlusunnah waljamaah (Aswaja) tidak berakhir ketika seseorang tidak lagi menjadi pengurus.
“Saya pribadi sebagai ketua cabang berharap kita mampu terus mengintrospeksi diri dalam berorganisasi karena bukan hanya saat sekarang kita menjadi pengurus, tetapi juga setelah selesai dari IPNU-IPPNU kita tetap punya tanggung jawab menjadi nilai-nilai NU dan Aswaja. Jaga marwah kalian di organisasi dan jaga marwah organisasi di tangan kalian,” katanya.
Reporter: Vika
Editor: Redaktur

