NEWS

Kembalinya Medali Ramon Magsaysay Gus Dur Kepada Keluarganya

PAMEKASAN-Sebuah medali yang diterima KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada tahun 1991 bernama Ramon Magsaysay, sangat mengejutkan ketika menjadi koleksi seseorang asal Surabaya. Namun, medali tersebut berhasil dikembalikan ke keluarga Gus Dur, bersamaan dengan ulang tahun puterinya, Allisa Wahid. Bagaiman cerita medali itu kembali ke tangan keluarga Gus Dur?

Ahmad Zainul Hamdi, aktivis Gusdurian Jawa Timur menuliskan kisahnya. Kisah ini diambil dari status facebooknya.

Pada tahun 1991, KH Abdurrahman Wahid, biasa dipanggil Gus Dur, menerima penghargaan Ramon Magsaysay untuk kategori community leadership. Dari sekian banyak penghargaan yang pernah diterimanya, mungkin inilah penghargaan yang paling bergengsi, karena penghargaan Ramon Magsaysay ini biasa disejajarkan dengan penghargaan Nobel tingkat Asia.

Entah bagaimana ceritanya, sekitar satu bulan lalu, seorang kawan Tionghoa di Surabaya, melalui Yuska Harimurti, menghubungi saya dan mengatakan bahwa dia menemukan medali Gus Dur itu di tangah seorang kolektor. Dia meminta saya untuk menghubungi Mbak Alissa Wahid, putri Gus Dur pertama, untuk menanyakan apakah betul medali Ramon Magsaysay Gus Dur hilang. Hingga saat saya menanyakan kabar tersebut ke Mbak Alissa, panggilan akrab Alissa Wahid, putri Gus Dur itu belum tahu. Selang beberapa hari, Mbak Alissa mengabari saya bahwa medali itu memang telah raib.

Malam ini (27/06/2019), medali itu diserahkan kembali ke keluarga Gus Dur. Mbak Alissa sebagai perwakilan keluarga Gus Dur menerima medali itu dari Pak Gatot Seger Santoso, perwakilan komunitas Konghucu (Boen Bio), sebagai pihak yang menebus medali itu. Penyerahan ini dikemas dalam acara halalbihalal Jaringan GUSDURian Jawa timur bekerja sama dengan Perkumpulan Indonesia-Tionghoa (INTI) dan Boen Bio di Rumah Makan Fook Surabaya.

Allisa Wahid saat menerima medali Ramon Magsaysay dari warga Thionghoa Surabaya. Medali tersebut raib dan ditemukan dari seorang kolektor asal Surabaya.

Pada kesempatan itu, Mbak Alissa yang selama ini menjadi Koordinator Jaringan GUSDURian Indonesia mengajak para hadirin untuk bersama-sama melanjutkan perjuangan Gus Dur di tengah maraknya intoleransi dan politisasi agama yang sangat memecah belat. Menurutnya, GUSDURian ibarat sapu lidi yang akan kuat dan kokoh jika terikat dan bergerak bersama-sama.

Di akhir acara, panitia memberi kejutan kecil kepadanya saat semua hadirin berdiri dan menyayikan lagu ‘happy birthday” untuknya. Sekelompok anak muda membawa kue tart ke hadapannya dan memintanya untuk meniup lilin yang tertancap di atasnya. Memang, putri Gus Dur yang selama ini dikenal dekat dengan anak-anak muda ini berulang tahun beberapa hari lalu.

Selamat ulang tahun Mbak Alissa. Semoga panjang umur! Tetaplah bersama kami. Kami adalah lidi yang perlu diikat agar kokoh dalam bergerak, dan engkau adalah tali pengikat itu.

Lalu saya? Saya hanyalah seorang pecinta Gus Dur yang diberi kesempatan Tuhan untuk bisa bercengkerama lepas dengan putri-putrinya. Dan, malam ini diberi kemuliaan untuk memandu forumnya.

Editor : Taufiqurrahman