News

KH Muchlis Nasir: Tokoh Muda Penggerak Aswaja Pengemban Amanah Pj Ketua PCNU Pamekasan

PAMEKASAN — Sosok KH. Muchlis Nasir mungkin bukan nama baru bagi kalangan nahdliyin di Kabupaten Pamekasan. Ia adalah salah satu tokoh muda yang telah lama berkecimpung dalam dunia dakwah, pendidikan, dan organisasi. Kini, usai wafatnya Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, estafet kepemimpinan dilanjutkan olehnya melalui keputusan rapat pleno yang digelar oleh jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan, Ahad malam (20/07/2025).

KH. Muchlis Nasir atau yang akrab disapa Kiai Muchlis lahir di Sampang, 7 Agustus 1981. Latar belakang keilmuan dan pengalaman organisasinya menjadi modal penting dalam menjawab amanah baru sebagai Pejabat (Pj) Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan. Pendidikan formal ia tempuh mulai dari SDN Palengaan Laok III, lalu SMPN Palengaan I, hingga Madrasah Aliyah Alkaromah. Ia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, menyelesaikan S1 dan S2 di kampus tersebut.

Tak hanya pendidikan formal, Kiai Muchlis juga dikenal sebagai santri tulen. Ia menimba ilmu agama dan nilai-nilai ke-Aswaja-an di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan —salah satu pesantren legendaris yang menjadi kawah candradimuka banyak tokoh NU.

Kiprahnya dalam organisasi terentang sejak masa mahasiswa. Ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UINSA Surabaya sejak tahun 2004. Sepulangnya ke Madura, ia tak henti melanjutkan pengabdian. Setelah menetap di Kampung Aswaja, Palengaan Daja, Palengaan, Pamekasan, tahun 2016 ia dipercaya sebagai Ketua MWCNU Kecamatan Palengaan dan sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Aswaja NU Center Pamekasan. Lima tahun kemudian, ia didapuk sebagai Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan —posisi yang kini resmi ia teruskan menjadi ketua.

Bagi kalangan internal NU, Kiai Muchlis dikenal sebagai figur yang tenang, konsisten, dan mengedepankan penguatan kaderisasi serta literasi ke-Aswaja-an. Gaya kepemimpinannya cenderung kolektif-kolegial, namun tetap tegas dalam prinsip. Dalam banyak kesempatan, ia menyuarakan pentingnya penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan kemandirian organisasi di tengah tantangan zaman.

Penunjukan Kiai Muchlis sebagai Pj. Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan bukan hanya sekadar keputusan administratif. Lebih dari itu, ia akan melanjutkan tongkat estafet dari almarhum KH. Taufik Hasyim yang dikenal sebagai tokoh kharismatik dan tokoh pemersatu di Madura. Melalui mekanisme pleno yang sah, nama Kiai Muchlis muncul sebagai representasi kesinambungan dan regenerasi dalam tubuh NU.

Kini, di tengah berbagai tantangan umat, para masyayikh memandang Kiai Muchlis mampu mengemban amanah besar menggantikan sosok almarhum KH. Taufik Hasyim: menjaga marwah NU, memperkuat barisan kader, dan merawat peran NU sebagai penjaga harmoni masyarakat Madura. Perjalanan panjang pengabdian ini seolah memasuki babak baru —babak di mana prinsip keilmuan, organisasi, dan dakwah bersatu dalam satu jalan juang: Nahdlatul Ulama.


Reporter: Intan/Asrofi

Editor: Redaktur