NEWS

LDNU Pamekasan, ‘Islam Nusantara Ruh Karakteristik Islam Santri’

PAMEKASAN – Diskursus Islam Nusantara menjadi perbincangan hangat dialektik. Pro dan kontra  dalam konteks  pemikiran masyarakat Indonesia tidak terhindari, meskipun pro-kontra tersebut hanya sebatas benturan wacana, tidak sampai menjurus benturan konflik sosial-horizontal, terlebih mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena kedua kelompok sama-sama melegitimasi dirinya mencintai NKRI, UUD 45 dan Pancasilsa. Lantas, di manakah letak pro dan kontra itu?

R. Muhammad Afiful Khair atau yang akrab disaspa Ra Afif, Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) Pamekasan, Senin (22/10/2018) menjelaskan, kelompok yang kontra terma Islam Nusantara mengasumsikan adanya reformulasi tatanan ontologis nilai-nilai Islam secara destruktif, dan mengisinya dengan nilai-nilai budaya bangsa Nusantara.

Sedangkan kelompok yang pro, ia melanjutkan, hadirnya Islam Nusantara menjadi suatu hal yang penting dalam rangka kontekstualisasi nilai-nilai Islam, dengan tanpa mencerabut perwajahan kearifan lokal Nusantara, dan menjadikanya instrumen kekuatan dakwah. Akulturasi budaya menjadi fenomena yang mengantarkan kehadiran perwajahan Islam berbeda dari perwajahan Islam di tempat kelahiranya.

“Tahlilan, rokat, petik laut, maulid menjadi tipologi perwajahan Islam, Nusantara,” imbuhnya.

Alhasil, lanjut Ra Afif, melalui medium rangkulan kearifan lokallah Islam berjaya di Nusantara, tanpa adanya saling pukul dan injak, karena terdiasporakan secara baik dan bijak.

“Pada giliranya akan mengalirkan pemantik lahirnya  tata sikap, moderat, toleran, inklusif, yang tercermin dalam karakteristik ruh keislaman kesantrian,” pungkasnya.


Reporter: Abror
Editor: Ahnu